Meskipun menduduki jabatan tinggi seperti Sekretaris Kabinet dan Direktur Jenderal Imigrasi, ia tetap hidup sederhana. Hoegeng menolak dikawal, tidak mengambil jatah beras, dan tidak mengizinkan istrinya menjadi ketua Bhayangkari.
Melansir Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah (2021) bertajuk ‘Jenderal Hoegeng Imam Santoso: Kapolri Jujur, Disiplin dan Sederhana Sebagai Teladan Generasi Muda’, Hoegeng enggan menggunakan nama lengkapnya dan lebih memilih dipanggil Hoegeng. Sebab, nama panjangnya itu ia rasa berat karena idealisnya.
Dikenal sebagai polisi yang jujur dan anti-suap. Bahkan, Putra Hoegeng, Didit, berujar bahwa keluarganya hidup di sebuah rumah yang disewa per bulan.
Hoegeng meninggal pada 14 Juli 2004 di Jakarta dan menjadi teladan bagi masyarakat Indonesia.
(Data dihimpun Litbang MPI)
(Arief Setyadi )