3 Jenderal yang Diasingkan oleh Soeharto, Ada yang Ditahan Tanpa Pengadilan

Awaludin, Jurnalis
Rabu 29 Mei 2024 06:19 WIB
Jenderal TNI Pranoto Reksosamodra (foto: dok wikipedia)
Share :

SEBAGAI Presiden dengan masa jabatan terlama di Indonesia, Soeharto adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang memiliki kedekatan dengan sejumlah jenderal. Namun, ada beberapa jenderal, baik di tubuh TNI maupun Polri, yang terkesan ‘dimatikan’ oleh Soeharto. Siapa saja mereka? Berikut 3 di antaranya:

1. Jenderal Besar TNI AH Nasution

Abdul Haris (AH) Nasution adalah tokoh militer sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1959 sampai 1966. AH Nasution merupakan salah jenderal yang sengaja ‘dimatikan’ oleh Soeharto.

Berposisi sebagai senior, AH Nasution mempunyai hubungan yang sangat berdinamika dengan juniornya, Soeharto. Nasution adalah orang yang bergabung dengan Petisi 50 dan menentang kepemimpinan Soeharto yang sudah berjalan sangat lama, hingga dicap sebagai diktator. Ketika Soeharto naik sebagai presiden, hubungan Nasution dan Soeharto kian merenggang.

AH Nasution sempat menjadi Ketua MPRS, tapi lembaga pemerintahan itu justru ditumbangkan Soeharto ketika Nasution sedang memimpin. Setelah itu, Nasution membuat buku yang menjabarkan kesannya selama di MPRS. Nanum, buku tersebut justru dilarang beredar oleh pemerintahan Soeharto. Selain itu, gerak-gerik AH Nasution juga sangat diawasi oleh aparat dicekal dengan tidak diperbolehkan berbicara di berbagai universitas.

2. Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso

 

Seorang jenderal polisi yang terkenal akan kejujuran serta integritasnya, Hoegeng Imam Santoso, juga masuk dalam daftar jenderal yang ‘dimatikan’ Soeharto. Ia dilantik Soeharto sebagai Kapolri pada 15 Mei 1968 di Kebayoran Baru. Soeharto jugalah yang memberhentikan Hoegeng dari posisinya pada 2 Oktober 1971.

Sama dengan Nasution, Hoegeng bergabung dengan Petisi 50 dan menangani berbagai kasus. Tak jarang, Hoegeng harus berhadapan dengan kasus yang melibatkan orang-orang terdekat Soeharto.

Satu kisah yang cukup terkenal adalah kala Hoegeng menolak tawaran jabatan sebagai Duta Besar di Kerajaan Belgia, Benelux, dan Luksemburg. Mendengar penolakan itu, Soeharto langsung memanggil Hoegeng ke Cendana. Presiden ke-2 RI tersebut terlihat sangat kecewa, hingga mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada lagi lowongan di Indonesia untuk seorang Hoegeng.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya