"Di era digital ini sekarang banyak sekali dan gampang untuk mencetak sertifikat-sertifikat kejuaraan, sekarang balik lagi, apakah panitia melakukan verifikasi dan validasi dengan induk olahraga, atau dinas Kebudayaan, tidak," kata Indraza kepada iNews Media Group, Sabtu (29/6/2024).
2. Terjadi di Sumsel
Salah satu contoh pemalsuan sertifikat perlombaan yang ia temui di daerah Sumatera Selatan (Sumsel). Di sana, Indraza menyebutkan, terdapat siswa yang memiliki enam sertifikat silat.
Namun, ketika diminta untuk menunjukkan skillnya, siswa yang dimaksud tidak mampu menunjukkan. Bahkan, satu jurus pun tidak ada yang dikuasai.
"Contoh kemarin saya ke Sumsel ada anak yang punya sertifikat juara silat sampai enam, bayangin kalau nilainya (satu sertifikat) 200 maka dia dapat 1.200, tapi satu jurus pun anaknya tidak bisa," paparnya.