Dialog dilanjutkan dengan dua sesi pleno utama. Sesi pertama bertema Integrated Maritime Security: Naval Cooperation and Joint Force Engagement in the Indo-Pacific, dimoderatori Kepala Pusat Strategi Kebijakan Asia Pasifik dan Afrika BSKLN Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela. Diskusi menghadirkan Laksda TNI Antonius Widyoutomo dan mantan Kepala Staf Japan Self-Defense Forces, Koji Yamazaki. Sesi ini menegaskan bahwa keamanan maritim Indo-Pasifik hanya dapat dijaga melalui kerja sama angkatan laut yang terintegrasi, berbasis hukum internasional, serta didukung kepercayaan, pertukaran informasi, dan interoperabilitas.
Sesi pleno kedua mengangkat tema U.S. Retrenchment in Asia? Strategic Coordination Among Asia’s Middle Powers, dimoderatori Edy Prasetyono dari Universitas Indonesia. Diskusi menghadirkan Andi Widjajanto dan Direktur Eksekutif SPF, Nobukatsu Kanehara. Para pembicara sepakat bahwa stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar bergantung pada koordinasi strategis negara-negara kekuatan menengah untuk menjaga otonomi kawasan dan memperkuat tatanan berbasis aturan.
Dialog juga diisi dengan diskusi panel yang melibatkan perwakilan Indonesia, Jepang, Filipina, Singapura, dan Vietnam dari kalangan militer, pembuat kebijakan, akademisi, dan think tank. Seluruh sesi panel berlangsung dengan prinsip Chatham House Rule guna mendorong pertukaran pandangan yang terbuka dan konstruktif.