“Banyak warga komplain ke saya. Proses pembangunan ini bikin macet luar biasa karena ada penyempitan jalan,” ujar Kenneth, Selasa (24/2/2026).
Saat meninjau langsung lokasi, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu mendapati Jalan Latumenten yang sebelumnya memiliki tiga lajur kini hanya menyisakan satu lajur aktif. Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan mengular, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Selain itu, ia menyoroti keberadaan angkot JakLingko yang berhenti tepat setelah perlintasan kereta api sehingga rawan memicu penumpukan kendaraan. Kenneth juga menilai kendaraan besar seperti truk kontainer dan bus seharusnya dialihkan ke jalur alternatif selama proyek berlangsung guna mengurangi beban lalu lintas.
Ia meminta Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera mengambil langkah konkret.
“Harus ada pengaturan lalu lintas yang lebih tegas, pengawasan di lapangan yang konsisten, dan solusi cepat untuk kendaraan besar maupun titik berhenti angkot. Kalau bisa diantisipasi sekarang, kenapa harus tunggu makin parah?” tegasnya.
(Awaludin)