Coba sejenak kita memicingkan mata bukan pada peta militer, namun pada kamus yang kita pakai. Kita mendengar istilah "degradasi kemampuan," "serangan presisi," dan "managed escalation”. Kata-kata itu begitu steril dan bersih. Seolah-olah yang dibicarakan adalah mesin, bukan manusia. Di sini kita memahami bahasa adalah senjata pertama dalam perang. Ketika kita menyebut musuh sebagai "them” (mereka), kita telah melubangi hati kita sendiri. Kita memberi izin pada diri sendiri untuk tidak merasa.
Mari kita singkap tabir itu. Ketika para analis berbicara tentang “kematian seribu luka” terhadap rezim, itu berarti ribuan keluarga akan kehilangan tulang punggungnya. Ketika pengamat berspekulasi tentang “skenario lepas kendali”, yang dipertaruhkan adalah apakah anak-anak di Shiraz masih bisa tertawa atau tidak. Skema diplomasi Rusia, kepentingan minyak China, atau ambisi elektoral para pemimpin dunia, di mana semuanya sah dalam kalkulasi politik. Namun, kemanusiaan tidak boleh menjadi variabel pengganggu dalam kalkulasi itu.
Kita di Indonesia, yang hidupnya jauh dari deru pesawat jet tempur siluman F-35, mungkin merasa aman. Namun, kita pasti paham betul bahwa rasa kemanusiaan tidak mengenal batas teritorial. Ketika kita diam saat rumah sakit di Tehran dibom, kita sedang membisukan hati nurani kita sendiri. Ketika kita menerima logika "perang pencegahan," kita sedang menabur racun yang suatu hari bisa diminum oleh anak cucu kita sendiri.
Saya teringat percakapan dengan seorang kawan kuliah S2 dulu di Sydney University dari Isfahan. Kami berbincang via messenger sehari sebelum serangan Israel-Amerika Serikat yang membunuh ratusan jiwa termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei pada 28 FEbruari 2026.
Ia bercerita sudah empat tahun terakhir dia merawat orang tuanya yang renta. Dia mengatakan kepada saya ingin bekerja di Indonesia guna menghidupi keluarganya di tengah kesulitan ekonomi. Dia memiliki pengalaman bekerja di United Nations. Dia sempat mengatakan bahwa jika perang terjadi, mungkin dia akan tinggal nama. Saya tidak ada kontak setelah serangan mematikan tersebut.
Kini, generasi baru akan lahir di Tehran. Mereka akan tumbuh dengan ingatan tentang sirene, tentang ruang bawah tanah yang gelap, tentang wajah ibu yang cemas. Dan ketika mereka besar nanti, mereka akan mewarisi bukan hanya tanah air, tapi juga dendam yang ditanam oleh rudah-rudal malam itu. Para jenderal mungkin pulang dengan membawa kemenangan. Tapi sejarah akan mencatat bahwa mereka telah menanam angin, dan anak cucu mereka yang akan menuai badai.