(Penulis: Ridwan Al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII)
PERANG acap dimulai dengan keyakinan penuh bahwa ia bisa dimenangkan. Para jenderal sibuk menyusun peta operasi, politisi menghitung biaya dan manfaat perang dan analis memperkirakan durasi konflik. Semua tampak rasional, seolah-olah perang hanyalah persoalan strategi. Namun, sejarah acap mengajarkan ironi bahwa perang hampir selalu berkembang melampaui rencana para pelakunya. Israel-Amerika Serikat (AS) mengalaminya saat ini. Mereka menyangka bahwa dengan membunuh pemimpin Iran, yang dikenal dengan teori “decapitation strike” (pemenggalan kepala rezim), akan mengakibatkan Iran lumpuh dan rakyat bangkit melawan. Singkatnya rezim berganti dalam waktu singkat.
Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Di luar perkiraan Isreal-AS. Serangan militer yang awalnya dimaksudkan sebagai operasi terbatas kini berpotensi membuka babak baru konflik di Timur Tengah, karena Iran tidak menyerah bahkan menunjukkan ketangguhan dalam perang yang berlangsung. Gugurnya sang rahbar Khamenei telah menjadi situs perlawanan. Terpilihnya Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, menandai babak baru konflik yang tidak akan berhenti segera. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah seberapa besar perang akan meluas dan hingga kapan? Tulisan ini hendak mengulas, paling tidak, ada tiga skenario masa depan yang mungkin muncul dari perang ini, dan juga rapuhnya kemanusiaan.
Skenario Pertama: Perang Timur Tengah
Jika Iran memutuskan untuk melakukan balasan penuh, perang tidak akan berhenti di Israel, namun meluas ke Kawasan Teluk. Iran memiliki jaringan pengaruh yang luas di Kawasan, sejak dari Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini menjadi sekutu strategisnya bisa membuka front baru secara simultan. Karenanya, dalam situasi seperti itu, Israel tidak hanya menghadapi satu musuh, tetapi lingkaran konflik regional.