Berdasarkan keterangan resmi, data falakiyah menunjukkan tinggi hilal di Indonesia berkisar antara 0 derajat 49 menit hingga 2 derajat 53 menit pada Kamis, 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026. Sementara itu, elongasi hilal berada pada rentang 4 derajat 36 menit hingga 6 derajat 09 menit.
“Hilal di seluruh Indonesia berada di atas ufuk, tetapi masih di bawah kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), sehingga berada pada zona istihalah al-rukyah,” demikian keterangan resmi LF PBNU, Kamis (19/3/2026).
Dalam kondisi tersebut, rukyatul hilal tetap dilaksanakan pada Kamis petang sebagai bagian dari kewajiban fardlu kifayah. Pengamatan dilakukan di berbagai titik di Indonesia oleh jejaring LFNU dengan metode mata telanjang maupun bantuan alat optik seperti teleskop dan kamera.
LF PBNU menegaskan bahwa penetapan awal Syawal tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah. Keputusan tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi PBNU dalam menyampaikan ikhbar kepada warga Nahdlatul Ulama.
“Apabila hilal tidak terlihat dalam rukyatul hilal, maka Nahdlatul Ulama akan mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk menetapkan istikmal Ramadan, sehingga 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026,” tandasnya.
(Awaludin)