Kesedihan Idul Fitri di Gaza
Di sisi lain, suasana Idul Fitri di Gaza juga dipenuhi kontras antara duka dan harapan. Di tengah kehancuran akibat konflik berkepanjangan, warga tetap berupaya merayakan hari raya dengan segala keterbatasan.
“Kegembiraan Idul Fitri tidak lengkap,” kata Sadeeqa Omar, seorang ibu yang mengungsi di Deir al-Balah.
Meski serangan tidak lagi seintens sebelumnya, ancaman masih membayangi. Warga menghadapi keterbatasan pangan, kehilangan tempat tinggal, hingga perpisahan dengan anggota keluarga.
Di kamp-kamp pengungsian, tradisi tetap dijaga meski sederhana. Aroma kue khas seperti kaek dan maamoul masih tercium dari dapur darurat, menjadi simbol kecil ketahanan di tengah krisis.
Pembukaan terbatas perbatasan Rafah memberi sedikit harapan dengan masuknya bantuan kemanusiaan, namun distribusinya belum merata.
Di balik perayaan yang sederhana, tersimpan duka mendalam. Banyak keluarga merayakan Idul Fitri tanpa orang-orang tercinta, menjadikan momen kemenangan ini terasa sunyi dan penuh kehilangan.
(Awaludin)