DUBAI - Iran mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz sebagai respons atas ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump mengultimatum Iran akan menyerang jaringan listrik dalam 48 jam jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya.
Melansir Reuters, Senin (23/3/2026), Garda Revolusi Iran pada Minggu (22/3/2026) menyatakan, akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz yang strategis jika Presiden AS Trump melaksanakan ancaman untuk menargetkan fasilitas energi Iran.
Garda Revolusi Iran juga mengatakan perusahaan-perusahaan dengan saham AS akan 'dihancurkan sepenuhnya' jika fasilitas energi Iran menjadi sasaran Washington. Fasilitas energi di negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan AS akan menjadi sasaran yang 'sah'.
Sebelumnya, Juru Bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari, mengancam balik AS.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, semua infrastruktur energi, serta teknologi informasi...dan fasilitas desalinasi air, milik AS dan rezim di wilayah tersebut akan menjadi sasaran sesuai dengan peringatan sebelumnya,” kata juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari, menurut media pemerintah, melansir Reuters, Senin (23/3/2026)
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan kembali pernyataannya, menulis di X bahwa infrastruktur penting dan fasilitas energi di Timur Tengah dapat "hancur secara permanen" jika pembangkit listrik Iran diserang.
Diketahui, sebelumnya Trump memperingatkan Iran untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya dalam 48 jam.
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PLTU mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" kata Trump di platform Truth Social miliknya, Sabtu (21/3/2026).
Lebih dari 2.000 orang tewas selama perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari, yang telah mengguncang pasar, meningkatkan biaya bahan bakar, memicu kekhawatiran inflasi global, dan mengguncang aliansi Barat pascaperang.
(Erha Aprili Ramadhoni)