JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat kecaman keras dan seruan untuk dilengserkan setelah mengeluarkan ancaman untuk “mengakhiri sebuah peradaban” dalam perang melawan Iran pekan ini. Hanya berselang beberapa hari, sebuah laporan menyebut Pemerintahan Trump mengeluarkan ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap Takhta Suci Vatikan karena kritik Paus Leo XIV terhadap perang AS di Iran.
Diyakini bahwa para pejabat pemerintahan Trump gusar dengan pidato Paus Leo – orang Amerika pertama yang memimpin Gereja Katolik – pada Januari lalu, di mana ia menekankan penentangannya terhadap perang di Iran dan mendesak diplomasi sebagai solusi konflik.
Mengingat Trump melontarkan pernyataan kontroversial selama beberapa bulan terakhir, pidato Paus dinilai menyinggung sang Presiden. Laporan lain mengonfirmasi bahwa Pierre dipanggil untuk pertemuan di Pentagon dan “dimarahi” oleh anggota staf tingkat tinggi.
Laporan dari Letters From Leo menyebut pertemuan yang dihadiri Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan, Elbridge Colby, menjadi tegang ketika seorang pejabat AS mengingatkan Pierre tentang Avignon Papacy atau Kepausan Avignon, yang sejak lama dianggap sebagai salah satu era paling memalukan dalam sejarah Vatikan.
Pada abad ke-14, Raja Prancis mampu menegakkan kendali langsung atas Takhta Suci dan menggunakan pengawal militernya untuk membawa Paus ke Avignon. Menurut Hale, beberapa perwakilan Vatikan melihat hal ini sebagai ancaman penggunaan kekuatan militer terhadap Takhta Suci.
Colby dan rekan-rekannya diduga mengatakan kepada Kardinal Pierre: “AS memiliki kekuatan militer untuk melakukan apa pun yang diinginkannya di dunia. Gereja Katolik sebaiknya memihak AS.”
Insiden yang belum dapat dikonfirmasi ini diduga berkontribusi pada kegagalan rencana kunjungan Paus ke Amerika Serikat dalam rangka perayaan ulang tahun ke-250 negara tersebut.
Laporan ini menimbulkan reaksi keras terhadap AS, terutama dari umat Katolik. Wakil Presiden AS JD Vance segera didesak untuk memberikan tanggapan selama kunjungannya ke Hongaria pekan ini. Namun, Vance yang memiliki citra sebagai Katolik taat tidak memberikan jawaban meyakinkan. Ia sempat menyangkal mengetahui Kardinal Pierre, lalu menarik pernyataannya dengan mengatakan pernah bertemu Pierre tetapi tidak mengetahui laporan pertemuan di Pentagon.
Paus Leo XIV telah muncul sebagai kritikus vokal terhadap konflik Iran dan menyerukan pengekangan serta dialog. Nada seruannya semakin tajam seiring perkembangan terbaru.
Berbicara beberapa jam setelah Presiden Trump memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini,” Paus mengutuk ancaman terhadap warga sipil di Iran.
“Hari ini, seperti yang kita semua ketahui, ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran, dan ini benar-benar tidak dapat diterima,” kata Paus sebagaimana dilansir AP.
Meskipun tidak menyebut nama Trump secara langsung, Paus mendesak orang-orang untuk menghubungi para pemimpin politik dan perwakilan kongres mereka “untuk meminta mereka bekerja demi perdamaian dan menolak perang.”
“Kita menghadapi krisis ekonomi global, krisis energi, situasi di Timur Tengah yang sangat tidak stabil, yang hanya memicu lebih banyak kebencian di seluruh dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pesan kepada para pemimpin seharusnya: “Kembali ke meja perundingan, mari kita bicara, mari kita cari solusi secara damai, dan mari kita ingat terutama anak-anak yang tidak bersalah, orang tua, orang sakit, begitu banyak orang yang telah menjadi atau akan menjadi korban dari peperangan yang terus berlanjut ini.”
(Rahman Asmardika)