Pertempuran Amfibi di Selat Bali Usai Proklamasi,  Ngurah Rai dan ALRI Menahan Serangan Belanda

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Senin 13 April 2026 03:04 WIB
Letkol I Gusti Ngurah Rai/ist
Share :

JAKARTA – Letkol I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya menangkal setiap agresi sekutu dan Belanda di Bali.  Sebuah satuan bernama Pasukan-M, dari Angkatan Laut Republik Indonesia (sekarang TNI AL) ikut memberi bantuan.

Salah satunya pada pertempuran sengit di Cangkup, Bali, pada 13 April 1946 atau tepat 80 tahun silam.

Pasukan-M pimpinan Kapten (Laut) Markadi Pudji Rahardjo, menghadang konvoi tentara Belanda, sekaligus markas Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) di perkebunan karet, Pulukan.

Meski gagal, tapi serangan itu membuat Belanda kian waspada dan memperkuat pos-posnya di Cungkup dan Pulukan, hingga setidaknya meringankan beban perlawanan  Ngurah Rai, komandan Resimen TKR Teritori Sunda Kecil (Bali-red).

Dua hari sebelumnya, Pasukan-M juga menyerang tangsi Belanda yang sayangnya terlampau kuat di negara. Serangan-serangan itu merupakan beberapa operasi bantuan ALRI mendukung pasukan 'Ciung Wanara' yang dipimpin Ngurah Rai, hingga klimaksnya pada 'Puputan Margarana', 20 November 1946.

Di sisi lain, pada tanggal yang sama, 13 April 1946, juga terjadi pertempuran kecil antara kapal-kapal ekspedisi dari Sulawesi pimpinan Kapten (Laut) Haryanto dengan sejumlah kapal Belanda, di perairan dekat Pulau Sapudi, Madura.

Buku Kronik Revolusi Indonesia Jilid II, menyebut peran Pasukan-M di Bali diawali permintaan bantuan senjata Ngurah Rai kepada pimpinan Markas Besar TRI (Tentara Republik Indonesia – sekarang TNI) di Yogyakarta, untuk menghadapi pendaratan besar-besaran sekutu dan Belanda di Bali pada awal Maret 1946.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya