"Kita tantang semuanya. Ada yang katanya berjanji nanti akan menunjukkan ijazahnya ketika di pengadilan. Pengadilan mana? Tidak ada. Berkali-kali ada acara di pengadilan, dia tidak tampak. Ijazahnya katanya masih disita, padahal pengadilan itu forum tertinggi untuk membuktikan," terangnya.
"Hari ini tepat setahun setelah kita mengunjungi Universitas Gadjah Mada. Saya waktu itu bersama Dokter Tifa dan satu lagi yang sudah berkhianat, si Omon. Waktu itu kita melihat bukti langsung, tidak hanya ijazah, tetapi juga skripsi, di mana skripsi itu tidak ada lembar pengesahannya, nama dosennya salah, tidak sesuai aturan, hurufnya juga berbeda. Jadi itu jelas palsu. Tidak ada ijazah asli yang bisa terbit tanpa skripsi yang asli," ungkap Roy.
Roy menambahkan, terkait buku Jokowi's White Paper, ia menilai tetap bersifat ilmiah meskipun salah satu penulisnya, Rismon Sianipar, telah mencabut tulisannya. Menurutnya, tulisan Rismon tidak memberikan manfaat.
"Kita memastikan meskipun kemarin kita sudah membuat buku dan salah satu penulisnya mencabut tulisannya, silakan dicabut karena tulisannya tidak ada manfaat apa-apa. Tulisan dia hanya omon besar saja, dia menulis banyak halaman tetapi isinya hanya kuantitatif, hanya rumor, dan dia sudah berbohong pada dirinya sendiri dan pada Allah SWT," jelasnya.
"Dia menyatakan karena tidak lulus pendidikan S3 di Yamaguchi, kemudian tidak mau membayar beasiswa, lalu membuat surat kematian. Maka hari ini kita pastikan buku Jokowi's White Paper tetap ilmiah dan tetap kami pertahankan. Saya atas nama lima orang, saya dan Dokter Tifa tetap mempertahankan buku itu," kata Roy.
(Arief Setyadi )