Dia menilai AI dan keamanan siber kini menjadi variabel utama dalam menentukan kekuatan nasional suatu negara. Teknologi tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan militer, tetapi juga menjadi fondasi daya saing ekonomi.
Pengalaman konflik modern, seperti perang di Ukraina dan Gaza, menunjukkan bahwa AI dan sistem siber memberikan keunggulan dalam pengumpulan data, analisis cepat, serta perluasan cakupan target operasi militer.
‘’Ada banyak faktor yang memengaruhi sukses atau gagalnya. Bukan hanya meniscayakan keahlian dan pengetahuan SDM untuk menjembatani kolaborasi dan alih teknologi, tetapi juga rasa saling percaya dan memahami budaya kerja masing-masing bangsa. Inilah kenapa pertukaran budaya dan pengembangan SDM menjadi strategis,’’ pungkasnya.
Sementara itu, CEO yang juga Co-Founder ISDS, Dwi Sasongko, mengungkapkan lomba menulis ini dapat dilihat sebagai diplomasi publik yang kreatif dalam ikut mendorong keberhasilan kemitraan strategis antara RI dan Korsel melalui people to-people.
“Kerja sama Indonesia–Korsel menjadi contoh konkret bagaimana kemitraan internasional dapat mendorong penguatan industri pertahanan, pengembangan AI, keamanan siber, hingga peningkatan kapasitas SDM. Melalui lomba menulis ini, kami ingin mendorong masyarakat memahami isu tersebut secara lebih kritis dan konstruktif,” ujar Dwi.