JAKARTA - Kerja sama strategis Indonesia dan Korea Selatan di bidang pertahanan, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keamanan siber, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) dinilai memiliki arti penting bagi penguatan posisi nasional Indonesia di tengah dinamika keamanan Indo-Pasifik.
Demikian disampaikan Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University Curie Maharani, saat pembukaan Lomba Menulis Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertajuk ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, kerja sama strategis dengan Korsel membawa sejumlah potensi. Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua.
Kedua, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia. Ketiga, kedua negara memiliki konvergensi nilai yang menjunjung penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor pertahanan.
‘’Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ ujarnya.
Curie menyoroti kolaborasi pengembangan Jet Tempur KF-21 Boramae sebagai proyek strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, meskipun ekspektasi awal perlu disesuaikan dengan realitas terkini.
“Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal.
Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan Jet Tempur KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” jelas Curie.