Laporan: Perang di Iran Kuras Stok Rudal Strategis AS ke Tingkat Kritis

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 24 April 2026 13:42 WIB
Ilustrasi.
Share :

JAKARTA – Militer Amerika Serikat (AS) telah menguras persediaan rudal-rudal pentingnya ke titik berbahaya selama perang tujuh pekan dengan Iran, menurut analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Hal ini, menurut CSIS, memunculkan risiko jangka pendek dan membuat AS rentan dalam konflik di masa depan.

Laporan yang diterbitkan pada Selasa (21/4/2026) tersebut menemukan bahwa operasi tempur intensif telah menghabiskan sebagian besar persenjataan tercanggih Amerika, termasuk setidaknya 45% dari persediaan Precision Strike Missile (PrSM), hampir 50% dari pencegat pertahanan udara Patriot, dan lebih dari setengah dari rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Angka-angka tersebut dilaporkan selaras dengan penilaian rahasia Pentagon, demikian dilansir RT.

Pengurangan tersebut tidak terbatas pada sistem pertahanan udara. Analisis tersebut memperkirakan bahwa kampanye tersebut juga telah menghabiskan sekitar 30% dari persediaan rudal jelajah Tomahawk AS, lebih dari 20% dari rudal jarak jauh Joint Air-to-Surface Standoff Missiles (JASSM), serta sekitar 20% dari rudal pencegat SM-3 dan SM-6.

Meskipun Pentagon menyatakan memiliki kekuatan persenjataan yang cukup untuk melanjutkan operasi di Timur Tengah, laporan CSIS memperingatkan bahwa pengurangan persenjataan secara fundamental telah melemahkan kemampuan Amerika untuk menghadapi perang besar di tempat lain, khususnya melawan musuh yang setara seperti China.

Para penulis laporan memperingatkan bahwa membangun kembali persenjataan akan menjadi proses yang lambat dan mahal. Salah satu pakar mengatakan kepada CNN bahwa dibutuhkan waktu "satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan ini, dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya hingga mencapai jumlah yang dibutuhkan."

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya