LPOI Dorong Rekalibrasi Spiritual untuk Wujudkan Dunia Lebih Baik

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 24 April 2026 07:50 WIB
LPOI dorong rekalibrasi spiritual untuk wujudkan dunia lebih baik (Foto: Ist)
Share :

KYOTO - Kecanggihan teknologi dengan kompleksitasnya telah melahirkan tantangan baru bagi kehidupan manusia. Di satu sisi, kemajuan teknologi memunculkan peradaban unggul, namun di sisi lain juga memunculkan risiko eksistensial (existential risk), dehumanisasi, demoralisasi, dan bahkan dalam jangka panjang, bila tidak terkendali dan disalahgunakan, sangat memungkinkan menjadi senjata bagi genosida manusia dan penghancuran peradaban.

Realitas ketegangan geopolitik dan ancaman Perang Dunia Ketiga, baik yang dipicu karena kompetisi persenjataan modern maupun akibat konflik kepentingan, telah nyata mengacaukan stabilitas global dan melahirkan disharmoni dunia. Kehidupan yang damai dan harmonis menjadi terancam. Dunia membutuhkan pendekatan baru yang cerdas, cepat, dan jitu untuk mensolusikan dan menjawab berbagai problematika kehidupan global serta kompetisi teknologi yang semakin canggih dan kompleks.

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai asosiasi ormas Islam Indonesia, bersama Kuil Mii Dera Kyoto Jepang dan Sakuranesia, menggelar Peace Dialogue di Kyoto, Jepang, pada 20 April 2026 yang diselenggarakan di Kuil Miidera Jepang. Paralel dengan hal tersebut, juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama dengan Tenma Hospital Group untuk pengembangan rumah sakit, riset dan pengembangan stem cell, serta pelayanan kesehatan berbasis pendekatan spiritual dan natural medicine.

Ketua Umum LPOI Said Aqil Siroj menyampaikan, “dunia tengah memasuki babak baru dengan berbagai kemajuan, dinamika, dan kompleksitasnya. Kompetisi global dan konflik kepentingan antar blok peradaban yang semakit ketat dan telah memicu peperangan serta telah merugikan masa depan kemanusiaan dan perdamaian. Oleh karenanya dibutuhkan Rekalibrasi Spiritual untuk mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik”.

Dibutuhkan sebuah pendekatan baru yang mampu menyelaraskan kembali, memperbaiki orientasi, nilai-nilai, dan tatanan yang telah ada menjadi tatanan dunia yang lebih baik. LPOI menawarkan solusi global berbasis pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle”, kembali ke spiritualitas dan kembali ke alam sebagai pilar utama penyangga kemanusiaan dan perdamaian.

Kiai Said Aqil yang juga Mustasyar PBNU dan sesepuh Nahdlatul Ulama menegaskan, ”dengan kembali ke spiritualitas, manusia akan menjadi sadar, bahwa semua manusia adalah saudara yang mendapat tugas yang sama dari Tuhan, untuk memakmurkan dunia dan menjaganya dengan damai. Dan dengan kembali ke alam, manusia akan menjadi sadar betapa pentingnya melestarikan Bumi dan jagat raya sebagai rumah bersama umat manusia. Kesadaran ini tentunya harus diletakkan sebagai core value bagi semua gaya hidup (life style) dan cara pandang (life of view) serta dasar bagi semua tindakan dalam kehidupan manusia. Internalisasi nilai-nilai ini harus ditanamkan sejak dini dan terus-menerus kepada semua generasi, agar misi perdamaian dan kemanusiaan dapat terwujud serta terjaga sepanjang masa”.

Kaum agamawan dari semua agama tidak boleh tinggal diam. Kini saatnya bergerak dan tidak boleh terlambat untuk menata kembali dunia yang tengah di ambang perpecahan.

Kiai Said Aqil yang juga Ketua Umum Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) menyampaikan, bangsa Indonesia wajib dan harus senantiasa hadir secara aktif dan cerdas dengan penuh keberanian serta langkah-langkah yang strategis untuk mensolusikan berbagai persoalan dan dinamika global. Hal ini selaras dengan komitmen bangsa Indonesia dan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Hal tersebut juga selaras dengan misi manusia diciptakan Allah SWT agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sementara Imam Pituduh, Sekretaris Jenderal LPOI menjelaskan, pendekatan “Spiritual and Natural Lifestyle”, selain sebagai solusi atas krisis global, keberadaannya diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung (connecting bridge) bagi semangat persaudaraan sebagai sesama manusia, yang selama ini telah terkotak-kotak dalam berbagai bentuk perbedaan dan konflik kepentingan. Pendekatan ini diharapkan mampu menjadi jalan alternatif dan sekaligus sebagai jalan keluar (alternative and exit way) dari semua pendekatan yang telah ada, dalam bentuk yang lebih genuine dan lebih solutif, serta tidak terjebak dalam blok-blok peradaban tertentu.

Imam Pituduh yang juga founder Yayasan Inti Trust Fund menambahkan, gagasan ini tidak hanya sekadar teori belaka, tetapi telah tumbuh dan berkembang dalam realitas hidup dan kehidupan masyarakat Asia, dan akan terus-menerus digaungkan ke seluruh penjuru dunia. Praktik-praktik ini nyata dan telah eksis di Asia, khususnya pada isu kesehatan yang mengetengahkan pendekatan “Spiritual and Natural Medicine” dan pada isu pertanian yang menyuguhkan pendekatan “Spiritual and Natural Farming”. 

Formulasi pendekatan dan gerakan spiritual dan natural pada isu kesehatan dan pertanian sangatlah penting dan mendesak, mengingat pangan dan kesehatan adalah pilar kemanusiaan dan perdamaian dunia. LPOI dan Inti Trust Fund akan terus berikhtiar menggandeng semua pihak untuk bekerja sama dalam mewujudkan misi kemanusiaan dan perdamaian dunia. 

Founder Sakuranesia Tovic, Rustam menambahkan, kegiatan yang dijalankan bersama LPOI adalah langkah awal untuk membangun kesadaran global dan dimulai dari Jepang, karena Sakuranesia berbasis di Jepang dan di Indonesia. Sakuranesia berkomitmen mendukung kemanusiaan dan perdamaian dunia. Kerja sama dengan LPOI dan kaum agamawan adalah pintu gerbang utama bagi usaha untuk membumikan nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan kehidupan.

Tampak hadir dalam acara tersebut delegasi Indonesia, Sofwan Imam Yahya (Pimpinan Pesantren Al Tsaqofah), Arifin Junaidi (Ketua Umum HISMINU), Nur Hayati (Muslimat NU), Sakura Tomomi (Pimpinan Sakuranesia), para pimpinan Perhimpunan Pelajar Indonesia-Jepang (PPI Jepang), pimpinan dan anggota Kuil Miidera, Tenma Hospital Group, para profesor dan guru besar perguruan tinggi di Jepang, mantan Duta Besar Jepang untuk Indonesia, serta pimpinan korporasi di Jepang dan pimpinan lembaga sosial Jepang lainnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya