JAKARTA – Prajurit Kopassus menguasai berbagai keahlian seperti teknik tempur, membaca peta, pionir, patroli, survival, mendaki gunung, pendaratan kendaraan, hingga taktik perang gerilya. Mereka juga dilatih di berbagai medan perang mulai dari perkotaan, pegunungan, perhutanan, rawa-rawa, dan laut.
Prajurit yang sudah mendedikasikan hidup mereka sebagai pasukan komando harus menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam menjalankan latihan di berbagai medan tersebut. Tidak heran, jika prajurit baret merah Kopassus memiliki kemampuan tiga matra.
Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo mengungkapkan pengalamannya saat mengikuti seleksi masuk prajurit Kopassus.
Dilansir dari buku ‘Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan’, Minggu (26/4/2026), setelah menempuh pendidikan dari Lembah Tidar tahun 1980, Pramono Edhi mengikuti seleksi prajurit Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha),cikal bakal korps baret merah Kopassus.
Pramono Edhie harus melalui Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Tahapan tersebut berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat.
Selepas Tahap Basis, dia berlanjut mengikuti Tahapan Hutan Gunung hutan kawasan Citatah, Bandung. Di sana dia digembleng untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan dan survival di tengah hutan.
Tahapan tersebut diakhiri dengan berjalan kaki ke Situ Lembang-Cilacap dengan membawa sejumlah amunisi dan peralatan yang beratnya bisa mencapai belasan kilogram.
Setelah di Cilacap, siswa calon prajurit Kopassus kembali mendapat latihan yang cukup berat, yaitu Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut.