WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak tanggapan Iran terhadap proposal terbaru Washington untuk mengakhiri perang antara kedua pihak. Trump menyebut respons dari Teheran terhadap proposal tersebut “tidak dapat diterima”.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya—SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, sebagaimana dilansir Anadolu.
Unggahan tersebut muncul beberapa jam setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengirimkan tanggapannya terhadap proposal terbaru AS melalui mediator Pakistan.
“Tanggapan Republik Islam Iran terhadap proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang telah dikirimkan kepada mediator Pakistan hari ini,” lapor kantor berita IRNA.
Stasiun penyiaran resmi IRIB menyatakan bahwa tanggapan tersebut berfokus pada pengakhiran perang yang "dipaksakan" oleh AS dan Israel di semua lini, terutama Lebanon, serta memastikan keamanan pelayaran. Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, tentara Israel dilaporkan terus melakukan serangan harian di Lebanon dan terlibat baku tembak dengan Hizbullah.
Pihak Iran sendiri menyebut penolakan Trump atas tanggapan proposal tersebut sebagai “hal yang sama sekali tidak penting”. Kantor berita Tasnim mengutip seorang sumber yang mengatakan, “Tidak seorang pun di Iran menulis proposal hanya untuk menyenangkan Trump.” Sumber tersebut menekankan bahwa tim negosiasi menyusun rencana semata-mata berdasarkan hak-hak rakyat Iran.
Ketegangan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz. Gencatan senjata sempat mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan, guna membuka jalan bagi diplomasi menuju solusi permanen bagi perang tersebut.
(Rahman Asmardika)