JAKARTA - Mantan pemimpin Kuba, Raul Castro, didakwa oleh otoritas Amerika Serikat atas dugaan keterlibatannya dalam penembakan dua pesawat sipil organisasi Brothers to the Rescue pada 1996. Serangan di atas perairan internasional itu menewaskan empat orang, termasuk tiga warga negara Amerika Serikat.
Dilansir dari bnonews, Kamis (21/5/2026). Departemen Kehakiman AS mengumumkan, dakwaan pengganti tersebut pada Rabu 20 Mei 2026 di pengadilan federal Miami. Selain Raul Castro, lima orang lain juga didakwa, yakni Lorenzo Alberto Perez-Perez, Emilio José Palacio Blanco, José Fidel Gual Barzaga, Raul Simanca Cardenas, dan Luis Raul Gonzalez-Pardo Rodriguez.
Mereka menghadapi sejumlah dakwaan, mulai dari konspirasi membunuh warga negara AS, perusakan pesawat udara, hingga pembunuhan. Jika terbukti bersalah, para terdakwa terancam hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.
Brothers to the Rescue atau Hermanos al Rescate merupakan organisasi berbasis di Miami yang menjalankan misi kemanusiaan untuk mencari migran Kuba yang hilang atau mengalami kesulitan di Selat Florida. Pada era 1990-an, kelompok tersebut juga aktif mendukung gerakan pro-demokrasi Kuba.
Pada hari kejadian, tiga pesawat Brothers to the Rescue lepas landas dari Bandara Opa-locka, Florida Selatan, untuk menjalankan misi kemanusiaan di wilayah selatan garis paralel ke-24.
Namun, jet tempur Kuba menembakkan rudal udara-ke-udara ke dua pesawat sipil Cessna yang tidak bersenjata tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu. Kedua pesawat yang memiliki nomor ekor N2456S dan N5485S itu ditembak jatuh saat berada di luar wilayah Kuba dan di atas perairan internasional.
Empat orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, yakni Carlos Costa, Armando Alejandre Jr., Mario de la Peña, dan Pablo Morales. Sementara itu, satu pesawat lain milik Brothers to the Rescue berhasil lolos meski sempat dikejar jet tempur Kuba.
Jaksa AS menyebut Raul Castro, yang kala itu menjabat Menteri Pertahanan Kuba, berada dalam rantai komando operasi militer tersebut. Dakwaan juga menyebut para pilot Kuba telah menjalani latihan beberapa pekan sebelum serangan untuk mencegat pesawat sipil berkecepatan rendah.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, mengatakan kasus ini menjadi pertama kalinya pimpinan senior Kuba didakwa di Amerika Serikat atas dugaan aksi kekerasan yang menewaskan warga AS.
Direktur FBI, Kash Patel, menyebut dakwaan tersebut sebagai langkah besar menuju pertanggungjawaban atas tragedi yang telah berlangsung hampir tiga dekade lalu.
Di sisi lain, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam dakwaan itu dan menyebutnya sebagai tindakan politik tanpa dasar hukum. Ia menuding AS memanipulasi fakta penembakan pesawat tahun 1996.
Menurut Díaz-Canel, Kuba bertindak dalam bentuk “pembelaan yang sah” setelah terjadi pelanggaran berulang terhadap wilayah udaranya yang sebelumnya telah diperingatkan kepada pejabat AS.
(Awaludin)