VATIKAN - Paus Leo XIV menyampaikan permintaan maaf bersejarah atas peran Takhta Suci dalam perbudakan transatlantik, serta kegagalan untuk mengutuknya selama berabad-bahad.
Pesan bersejarah itu disampaikan Paus Leo pada Senin (25/5/2026) dalam ensiklik pertamanya, “Magnifica Humanitas” (Kemanusiaan yang Agung), di mana ia menyebut catatan Vatikan sebagai “luka dalam ingatan umat Kristen.” Ensiklik adalah salah satu bentuk pengajaran tertinggi dari seorang Paus kepada 1,4 miliar anggota Gereja.
Ini menandai pertama kalinya seorang paus secara terbuka mengakui dan meminta maaf atas peran yang dimainkan oleh paus-paus sebelumnya dalam memberikan wewenang eksplisit kepada monarki-monarki Eropa untuk menaklukkan dan memperbudak "orang-orang kafir."
Pesan Leo yang secara terbuka mengakui peran Takhta Suci dalam perdagangan budak transatlantik menanggapi seruan lama dari umat Katolik Amerika kulit hitam, aktivis, dan cendekiawan agar lembaga tersebut memperbaiki kesalahannya atas keterlibatannya.
“Mustahil untuk tidak merasa sangat sedih ketika merenungkan penderitaan dan penghinaan yang luar biasa yang dialami oleh begitu banyak orang, yang sangat kontras dengan martabat mereka yang tak terukur sebagai pribadi yang sangat dicintai oleh Tuhan,” tulis Leo, sebagaimana dilansir Reuters. “Untuk ini, atas nama Gereja, saya dengan tulus memohon pengampunan.”
Paus juga mengakui bahwa kecaman Paus Leo XIII terhadap perbudakan pada tahun 1888 terjadi jauh setelah banyak negara telah menghapuskannya. Pada zaman kuno dan Abad Pertengahan, bahkan gereja pun pernah memperbudak orang.
“Sudah pada periode modern awal, Takhta Apostolik Roma, menanggapi permintaan para penguasa, telah beberapa kali turun tangan untuk mengatur dan melegitimasi bentuk-bentuk penindasan, dan, dalam kasus-kasus tertentu, termasuk perbudakan terhadap ‘orang-orang kafir’,” tulis Leo, mengakui peran Takhta Suci sendiri dan bula kepausan abad ke-15.
Leo menyatakan bahwa menilai moralitas keputusan berdasarkan standar saat ini tidaklah mungkin.
“Namun kita juga tidak dapat menyangkal atau mengurangi keterlambatan yang dialami masyarakat dan gereja dalam mengecam momok perbudakan,” katanya.
Paus mengatakan bahwa gereja telah lama menegaskan martabat setiap manusia sebagai dasar doktrinnya, “meskipun butuh 18 abad untuk secara eksplisit mengakui ketidaksesuaiannya dengan perbudakan.”