Ramos Horta juga menekankan bahwa masyarakat Palestina maupun Israel pada dasarnya memiliki tradisi kemanusiaan yang kuat. Karena itu, menurutnya, dialog dan keberanian politik menjadi kunci untuk mengakhiri siklus kekerasan yang terus berulang.
Selain membahas Timur Tengah, Ramos-Horta juga berbagi pengalaman saat bertugas sebagai utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Guinea-Bissau dan terlibat dalam berbagai upaya mediasi konflik internasional, termasuk di Kolombia.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa pencegahan konflik harus menjadi prioritas utama para pemimpin dunia. Ramos-Horta menilai banyak perang dan krisis kemanusiaan sebenarnya dapat dicegah apabila diplomasi dijalankan secara serius sejak awal.
Mengenai kawasan Asia Tenggara, Ramos-Horta memberikan apresiasi terhadap perkembangan ASEAN yang dinilainya berhasil menjaga stabilitas kawasan yang sangat beragam selama puluhan tahun.
Meski demikian, ia mengakui bahwa krisis politik di Myanmar masih menjadi tantangan besar bagi ASEAN. Namun, respons organisasi kawasan tersebut terhadap kudeta militer Myanmar menunjukkan adanya perkembangan penting dalam prinsip dan komitmen ASEAN terhadap demokrasi serta stabilitas regional.
“ASEAN telah berkembang jauh dan menjadi salah satu organisasi regional paling berhasil di dunia,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )