44 Tahun Sat 81-Kopassus, Pasukan Rahasia Bentukan Prabowo dan Luhut yang Ditakuti Militer Asing

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Selasa 30 Juni 2026 05:00 WIB
Pasukan Kopassus
Share :

JAKARTA – Detasemen Khusus Sat-81/Gultor Kopassus merupakan unit antiteror yang terdiri dari prajurit terbaik dengan kualifikasi yang diseleksi dan dilatih di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus. Pasukan elite ini kini tepat berusia 44 tahun pada Selasa, 30 Juni 2026. 

Diketahui, Kopassus pernah dinobatkan sebagai pasukan khusus terbaik ke-3 di dunia oleh Discovery Military Channel pada 2008 silam. Saat itu, Kopassus menjadi pasukan elite terbaik ke-3 setelah Special Air Force (SAS) dari Inggris dan Mossad dari Israel.

Prabowo Subianto dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Militer: catatan dari pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto“ menyampaikan kesannya saat awal pembentukan Sat Gultor 81 ini.

Dalam buku tersebut, Prabowo menceritakan awal mula pertemuannya dengan Luhut Pandjaitan.

Saat itu, Prabowo masih berpangkat kapten, sementara Luhut baru kembali dari Operasi Nanggala 5 di Timor Timur.

Singkat cerita, Luhut kemudian diangkat menjadi kepala seksi 2 operasi dan Prabowo sebagai wakilnya. Keduanya saat itu langsung dikirim oleh sekolah Special Forces ke Amerika Serikat (AS).

"Pada 1981, sejak kembali dari Amerika, saya bersama Pak Luhut dipanggil oleh Pak Benny Moerdani. Kami diperintahkan untuk sekolah ke Jerman, sekolah antiteror GSG9,” tulis Prabowo dalam bukunya.

''Setelah sekolah itu, kami diperintahkan membentuk pasukan antiteror yang kemudian diberi nama Detasemen 81 karena dibentuk pada 1981,” ujar Prabowo

Namun tidak lama kemudian, Detasemen 81 berhasil dalam operasi pembebasan sandera di Woyla. “Ini adalah salah satu peristiwa pembebasan sandera yang paling terkenal di dunia pada saat itu,” kenang Prabowo.

 

Saat membentuk dan melatih pasukan antiteror Indonesia, Prabowo menyebut Luhut banyak memberikan masukan terutama untuk menyusun rencana latihan dan administrasi pembangunan.

Bahkan, Prabowo muda saat itu sudah diberikan tanggung jawab untuk pembangunan pangkalan maupun pengorganisasian. Prabowo mengatakan hubungannya dengan Luhut sangat baik.

"Tapi memang benar, karena kadang sifat kami berdua yang sama-sama Alpha akhirnya juga sering terjadi percikan-percikan. Gaya kepemimpinan dan kepribadian kami sama-sama keras,” jelasnya.

Namun, Prabowo mengaku belajar banyak dari sosok Luhut. Menurutnya, Luhut adalah orang yang tegas dan berkemauan keras.

 

"Beliau juga punya fisik yang baik. Beliau memimpin dari depan. Beliau sering lari, dan lari beliau selalu di depan. Saya memang tidak sekuat beliau larinya. Maklum, mungkin ini genetika, saya sering berseloroh orang-orang luar Jawa itu biasanya lebih kuat daripada orang dalam Jawa karena di luara Jawa kampung-kampung itu jauh,’’ujarnya.

‘’Mungkin pada saat itu genetikanya menjadi kuat lari, kuat jalan. Beliau sering memimpin dari depan. Pak Luhut juga penembak yang bagus. Beliau orang yang teliti dalam perjalanan,” kenang Prabowo.

Setelah kebersamaan yang cukup melekat, keduanya kemudian berpisah. Luhut melanjutkan Sekolah Staf dan Komandi ABRI, sementara Prabowo menjalani Kursus Lanjutan Perwira.

"Kami berpisah dan jarang lagi bertugas bersama, tetapi kami saling menghormati walaupun kadang-kadang perbedaan pandangan tapi di ujungnya kita selalu bersatu untuk kepentingan merah putih,” cerita Prabowo.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya