JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menandai peringatan 20 tahun peristiwa tsunami di Pangandaran, Jawa Barat, sebagai refleksi untuk terus membangun ketangguhan masyarakat di wilayah pesisir. Jika tragedi Tsunami Aceh 2004 menjadi titik awal inisiasi pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) dari hulu hingga hilir, maka tsunami Pangandaran yang terjadi 2 tahun pasca-tsunami Aceh menjadi tonggak penting percepatan pembangunan InaTEWS hingga akhirnya dapat diresmikan pada 2008.
Sejarah mencatat gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Pangandaran pada pukul 15.19 WIB, 17 Juli 2006, sebagai pemicu utama tsunami setinggi 4–8 meter di Pangandaran. Gelombang tersebut kemudian menyapu sepanjang 250 kilometer area pantai selatan Jawa, mulai dari Pangandaran, Jawa Tengah bagian selatan, hingga wilayah Yogyakarta.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan pascatragedi Pangandaran, BMKG menguatkan InaTEWS yang kini bertransformasi secara signifikan melalui dukungan jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut (tide gauge), serta sistem komputasi berkinerja tinggi.
“Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi. Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Faisal pada webinar “A 20 Years Commemoration of the 2006 Pangandaran Tsunami: Understanding The Past and Strengthening The Future Resilience”, dikutip Jumat (17/7/2026).