Gandhi, yang sempat ditahan pada Selasa (21/7/2026), muncul di parlemen pada Rabu dengan mengenakan pakaian hitam untuk menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah. Ia mendesak Perdana Menteri Modi mundur akibat tindakan keras polisi terhadap protes mahasiswa yang menyerukan reformasi dalam sistem pendidikan.
Ia kemudian menegaskan bahwa para mahasiswa mendapat dukungan penuh darinya, "Dan kami akan memastikan bahwa kalian dilindungi serta masa depan kalian terjamin."
Kelompok hak asasi manusia menuduh polisi menggunakan kekerasan berlebihan, serta mempertanyakan "legalitas, kebutuhan, dan proporsionalitas" dari tindakan tersebut.
Sementara itu, para pengunjuk rasa yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan menolak untuk meninggalkan lokasi Jantar Mantar di jantung ibu kota India, dengan jumlah kerumunan yang membengkak hingga beberapa ribu orang.
Gerakan ini telah meluas melampaui ibu kota, dengan demonstrasi-demonstrasi kecil yang bermunculan di seluruh negeri, termasuk di kota-kota besar seperti Mumbai dan Bengaluru.
Di Kota Patna bagian timur, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Pradhan, menurut laporan kantor berita Press Trust of India.
Para pengunjuk rasa, yang sebagian besar merupakan mahasiswa muda, mendapat dukungan besar pada Selasa setelah partai-partai oposisi memberikan dukungan resmi mereka kepada gerakan tersebut dengan menggelar aksi duduk di luar kediaman resmi perdana menteri.
(Rahman Asmardika)