Persoalannya bukan semata-mata apakah kata meneladani dapat atau tidak dapat digunakan. Dalam perkembangan bahasa, suatu bentuk kata dapat menjadi lazim karena frekuensi penggunaannya dan kemudian memperoleh penerimaan dalam masyarakat. Namun, kelaziman penggunaan tidak selalu identik dengan ketepatan makna yang hendak dikonstruksikan dalam suatu konteks tertentu.
Dengan demikian, penggunaan ungkapan “Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan” dapat dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk kembali pada substansi keteladanan: belajar dari keberanian para pahlawan, menghayati nilai perjuangannya, meneruskan semangat pengabdiannya, serta mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata bagi bangsa dan negara.
Hari Kemerdekaan dengan demikian tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang pahlawan, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kekinian. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada para pahlawan bukan hanya dengan menyebut nama mereka, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai perjuangan mereka melalui perilaku, pengabdian, integritas, dan tanggung jawab sebagai warga negara.