Dia juga terlibat dalam sejumlah program penguatan pesantren dan santri, di antaranya Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional, Apel Akbar Santri Nusantara, serta Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren.
Saat pandemi Covid-19, Gus Rozin turut terlibat dalam Satkor Covid RMI PBNU dan Program Kado Lebaran untuk Guru Ngaji dan lain sebagainya.
Menurutnya, memperkuat pesantren berarti ikut menjaga masa depan NU dan Indonesia. Pesantren harus mampu berkembang dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi, dan teknologi tanpa kehilangan karakter serta tradisi keilmuannya.
Gus Rozin menilai penguatan pesantren memiliki kaitan erat dengan pembangunan NU di daerah. Pesantren menjadi salah satu basis penting dalam kaderisasi, tradisi keilmuan, dan keberlanjutan NU di berbagai wilayah.
Karena itu, kepemimpinan PBNU mendatang diharapkan tidak hanya melihat pembangunan organisasi dari perspektif pusat, tetapi juga mendengar kebutuhan struktur dan jamaah di daerah.
“Penguatan NU harus berjalan dari bawah dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya,” kata Gus Rozin.
Menurut Gus Rozin, Muktamar ke-35 NU tidak semata-mata menjadi forum untuk memilih kepemimpinan baru, tetapi juga momentum menentukan arah perjalanan NU dalam beberapa tahun ke depan.
“Semoga Muktamar menjadi momentum untuk kembali memperkuat NU, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, melanjutkan apa yang sudah baik, dan membangun masa depan NU yang lebih mandiri, kuat, serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )