DPR Dorong Penggunaan Teknologi Rendah Emisi Perkuat Kampung Nelayan Merah Putih

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Selasa 08 September 2026 16:39 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri
Share :

JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menegakan keterbatasan rantai dingin dapat berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan karena kualitas ikan yang menurun akan diikuti penurunan harga jual. Selain aspek ekonomi, mutu produk juga berkaitan dengan keamanan pangan dan kemampuan Indonesia memenuhi persyaratan pasar ekspor.

Infrastruktur pendinginan dan penyimpanan bersuhu mendukung keberhasilan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), mengingat ikan dan produk hasil laut merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu.

"Kalau kualitas atau mutu ikan dan seafood sudah menurun, bukan hanya berdampak ekonomi, yaitu harga jualnya rendah atau bahkan tidak laku. Ada juga dampak terhadap kesehatan dan rendahnya nilai ekspor kita," ujar Rokhmin, Selasa (8/9/2026).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini menyebut, produksi perikanan Indonesia mencapai sekitar 15 juta ton per tahun yang berasal dari perikanan tangkap dan budidaya.

Namun, menurutnya, pemanfaatan sistem rantai dingin masih terbatas, yakni kurang dari 12 persen dari total produksi. Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen perikanan besar.

“Tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah dan posisi dalam perdagangan produk perikanan dunia,” ujarnya.

Menurut Rokhmin, penguatan rantai dingin perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari kapal atau lokasi produksi, tempat pendaratan dan pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, distribusi hingga produk sampai ke konsumen.

Dia mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien dan rendah emisi, termasuk pemanfaatan energi surya.

"Teknologi yang semakin canggih, terutama terkait teknologi low carbon atau zero carbon, harus kita manfaatkan. Indonesia ini gudangnya sumber energi matahari," katanya.

Pemanfaatan energi terbarukan tersebut, lanjut Rokhmin, dapat diterapkan secara bertahap pada kapal perikanan, cold storage, refrigerator maupun cool box.

Dia melanjutkan, gagasan penggunaan energi surya di sektor perikanan telah mulai diinisiasi sejak dirinya menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, antara lain melalui kerja sama dengan perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

“Pengembangan teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi operasional di sentra-sentra perikanan,”ujarnya.

 

Dia menekankan, bahwa masuknya teknologi dari luar negeri perlu diikuti upaya memperkuat kemampuan industri nasional.

Menurutnya, apabila teknologi yang dibutuhkan belum dapat diproduksi di dalam negeri, kerja sama dengan perusahaan asing tetap dapat dilakukan, tetapi harus menghasilkan manfaat berupa transfer teknologi, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), penciptaan nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja lokal.

"Manfaat kerja sama dengan luar negeri itu harus segera kita raih, yaitu manfaat alih teknologi, manfaat nilai tambah harus jatuh di kita, dan manfaat tenaga kerja juga harus di kita. Jangan sampai kita hanya impor gelondongan, tidak ada komponen satu pun yang diproduksi di dalam negeri," tegasnya.

Penguatan rantai dingin, juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor atau pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, industri swasta, akademisi dan peneliti, komunitas nelayan serta pelaku usaha perikanan, dan media.

“Pemerintah memiliki peran penting dalam menyediakan regulasi, anggaran, dan ekosistem kebijakan, sementara industri dapat menyediakan teknologi dan investasi, akademisi mendukung inovasi, komunitas menjadi pengguna sekaligus penerima manfaat, dan media membantu memperluas edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya