Pihaknya kini masih fokus untuk penanganan kebakaran dan meminimalisir luasan api yang terus bertambah. Angin kencang, kondisi vegetasi khususnya rerumputan yang kering di sekitar Blok Jemplang, membuat api berpotensi cepat menyebar, hingga membuat asap semakin tebal yang memengaruhi pandangan bagi petugas dan pengendara yang melintas di jalan antara Malang-Lumajang melalui Jemplang.
"Kondisi asap yang semakin tebal di sekitar kawasan terdampak, yang berpotensi mengganggu jarak pandang, mobilitas, keamanan dan keselamatan pengunjung serta dapat menghambat proses penanganan dan pemadaman kebakaran," tukasnya.
Sebelumnya diberitakan, titik api baru muncul di kawasan Savana Pengol pada Kamis malam (10/9/2026). Titik api itu kemudian meluas ke perbukitan di sekitarnya hingga memasuki Savana Lembah Watangan. Kencangnya angin yang berembus membuat api cepat menyebar.
Pengelola sempat menutup titik masuk dari Malang, meski dua titik masuk dari wilayah Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, dan Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, masih dibuka, sebelum akhirnya ditutup total pada Sabtu malam ini (12/9/2026).
Kebakaran ini menjadi yang kedua kalinya pascakebakaran besar melanda sejak 3 Agustus 2026 hingga 18 Agustus 2026 lalu. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 1.126 hektare hutan dan lahan di Gunung Bromo, yang membuat akses wisata ditutup total.
Pembukaan kegiatan wisata sendiri baru berjalan sejak 20 Agustus 2026 setelah tim Satuan Tugas (Satgas) Pemadaman Api Bromo berkoordinasi dan memastikan api sudah padam serta aman bagi wisatawan masuk.
(Awaludin)