KINSHASA - Otoritas kesehatan Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) menyatakan pada Senin (14/9/2026) bahwa jumlah kasus infeksi Ebola di negara tersebut telah melampaui 7.200, dengan hampir separuh dari pasien yang terkonfirmasi meninggal dunia sejak wabah terbaru ini bermula.
Wabah ini telah merenggut 3.475 nyawa, sehingga tingkat kematian akibat penyakit ini mencapai 48,3%. Sebanyak 1.712 pasien telah dinyatakan sembuh, sementara 923 orang masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit. Pejabat kesehatan menyebutkan bahwa 88% dari kontak yang teridentifikasi saat ini sedang dalam pemantauan.
Virus ini kini telah terdeteksi di 62 zona kesehatan yang tersebar di tujuh provinsi. Ituri tetap menjadi pusat penyebaran utama, disusul oleh Kivu Utara. Sud-Ubangi termasuk salah satu wilayah yang terdampak belakangan ini.
Wabah yang statusnya ditetapkan pada Mei ini disebabkan oleh virus Ebola galur Bundibugyo dan telah menjadi wabah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah RD Kongo, melampaui epidemi tahun 2018–2020 di negara tersebut. Saat ini, belum tersedia vaksin yang disetujui maupun pengobatan khusus untuk virus Ebola galur Bundibugyo.
Meskipun jumlah kumulatif kasus terus meningkat, Menteri Kesehatan Kongo Roger Kamba pada Senin menyatakan bahwa penularan varian Bundibugyo menunjukkan tanda-tanda melambat. Ia menyebutkan bahwa jumlah infeksi harian telah turun dari sekitar 120 kasus pada puncak wabah di pertengahan Agustus menjadi sekitar 80 kasus. Tidak ada infeksi baru yang terdeteksi selama setidaknya 22 hari di sepuluh dari 62 zona kesehatan yang terdampak wabah, termasuk enam zona yang telah melewati lebih dari 42 hari tanpa adanya infeksi baru.
"Angka-angka ini merupakan sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang dikerahkan di lapangan membuahkan hasil dan strategi respons kami mulai berhasil melandaikan kurva penularan," ujar Kamba, sebagaimana dilansir RT.
Kepala Africa CDC, Jean Kaseya, mengatakan kepada New York Times bahwa pihaknya telah memperluas cakupan rencana respons Ebola mereka, dengan meningkatkan anggaran dari USD518 juta menjadi USD1,4 miliar. Namun, pada bulan Juni, Kaseya mengungkapkan bahwa baru 13% dari sekitar USD910 juta dana yang dijanjikan oleh para donor yang telah benar-benar dicairkan; ia memperingatkan bahwa wabah tersebut tidak dapat dihentikan tanpa pendanaan yang memadai serta langkah-langkah untuk menangani situasi kemanusiaan yang ada. Sementara itu, negara-negara Afrika telah menjanjikan dana sebesar USD120 juta untuk upaya penanganan ini, dan USD90 juta di antaranya telah dicairkan.
(Rahman Asmardika)