Selain itu, TNI AL juga akan menyiapkan pilot helikopter agar mampu beroperasi dari geladak KRI Sriwijaya-100.
"Dan juga kita akan melatih pilot-pilot helikopter kita. Nanti ke depan jenis S-70 itu bisa beroperasi dari kapal ini," ucapnya.
Terkait langkah berikutnya, Ali mengatakan keputusan retrofit maupun penugasan awal masih menunggu perintah pimpinan.
"Mungkin dalam waktu dekat. Tapi kita lihat apabila ada penugasan untuk kapal ini dalam waktu dekat, maka penugasan dulu baru retrofit. Tapi itu tergantung nanti perintah dari atasan," katanya.
Menurut dia, proses retrofit nantinya akan dikerjakan bersama oleh PT PAL Indonesia dan galangan kapal Italia, Fincantieri.
Ali menambahkan, KRI Sriwijaya-100 memiliki fleksibilitas tinggi untuk mendukung berbagai operasi, termasuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti penanganan bencana alam maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Kalau menggunakan kapal induk ini untuk karhutla, bencana alam, ini sangat memungkinkan sekali. Jadi kapal ini sangat fleksibel," ujarnya.
Dia juga menyebut jika kondisi kapal masih prima. Hal itu dibuktikan dari pelayaran selama sekitar 20 hari dari Italia menuju Indonesia tanpa kendala.
"Anda lihat perjalanan selama 20 hari dari Itali tidak mengalami permasalahan sama sekali. Jadi ini menunjukkan bahwa kapal ini masih kondisinya sangat baik,"tutup Ali.
(Fahmi Firdaus )