"Kemudian kami melihat situasi di situ, kami masuk ke dalam dan ternyata menemukan beberapa lokasi hunian di lapas berupa bangunan yang terlihat seperti homestay, yang di antaranya ada dinding seng bercat warna biru," ujar Syafrida.
"Selain itu, terdapat bangunan seperti klaster. Jadi begitu masuk, di sebelah kanan ada rumah petak berwarna krem atau kuning. Di sebelah kiri berjarak sekitar 10–20 meter, berdiri rumah bercat putih berpintu hitam. Sementara bangunan yang seperti vila ini posisinya belok ke kanan dari rumah putih tadi," sambungnya.
Berdasarkan keterangan petugas di lokasi, bangunan tersebut adalah rumah asimilasi. Namun, saat tim Ombudsman memasuki bangunan itu, mereka menemukan berbagai fasilitas mewah hingga botol minuman keras.
"Fasilitas yang kami dapati berisi sofa, kulkas, televisi, dan meja makan. Di dalam kulkas tersebut bahkan terdapat botol-botol minuman keras," ucapnya.
Di dalam bangunan tersebut, tim mendapati seseorang yang mengaku sebagai warga binaan. Namun, orang tersebut berupaya menghindari tim Ombudsman saat dimintai keterangan lebih detail.
"Ketika mereka menyadari bahwa kami adalah Ombudsman, mereka langsung lari ke dalam kamar. Jadi diduga kuat di dalam Lapas Cibinong terdapat fasilitas khusus untuk beberapa warga binaan," tuturnya.
(Rahman Asmardika)