Demonstrasi Besar-besaran Pelajar Prancis Ricuh, 3 Sekolah Dibakar

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 02 Oktober 2026 15:11 WIB
Protes pelajar terjadi di seluruh Prancis beberapa sekolah dilaporkan dbakar. (Foto: X)
Share :

PARIS — Pelajar dan siswa di Prancis melakukan demonstrasi besar-besaran, membakar setidaknya tiga sekolah dan menyebabkan korban luka-luka. Aksi unjuk rasa yang dipicu oleh masalah kekurangan staf serta kondisi bangunan sekolah yang memburuk itu berubah menjadi semakin ricuh pada Kamis (1/10/2026).

Di SMA Victor Hugo, Marseille, para guru secara tidak sengaja terkena cipratan bensin ketika seorang siswa mencoba melemparkan bensin ke dalam tempat sampah, menurut keterangan otoritas setempat. Sebelumnya, kantor kejaksaan sempat menyatakan bahwa para guru tersebut diserang dan "disiram bensin".

Di sekolah lain di Marseille, yakni SMA Saint-Exupery, ratusan anak muda mengepung sebuah mobil pemadam kebakaran yang sedang menangani kebakaran, kata polisi. Kelompok tersebut memaksa petugas pemadam kebakaran untuk keluar dari kendaraan sebelum akhirnya membakar mobil itu.

Kebakaran lainnya terjadi di SMA Nelson Mandela di Kota Nantes, wilayah barat Prancis. Tidak ada laporan mengenai korban luka dalam kejadian ini. Gedung sekolah tersebut dievakuasi dan para siswa yang baru tiba untuk mengikuti pelajaran diminta untuk kembali ke rumah.

Pemerintah Menggelar Rapat Darurat

Aksi protes dan pemblokiran sekolah yang dimulai pekan lalu telah menjadi titik panas politik setelah pemerintah mengumumkan kebijakan pemangkasan anggaran yang tidak populer dalam anggaran tahun 2027 pada Kamis.

Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu menggelar rapat darurat terkait aksi protes tersebut. Menurut para pejabat, unjuk rasa ini telah menyebabkan puluhan orang terluka dan ratusan lainnya ditangkap, dengan mayoritas pelaku merupakan remaja.

Di Saint-Denis, wilayah pinggiran Kota Paris, massa berkumpul di depan barikade polisi. Seorang siswa tampak memegang papan bertuliskan: "Bisakah kami menyampaikan pendapat tanpa ditembaki gas air mata?"

 

Para siswa menuding polisi menggunakan tindakan represif, termasuk penggunaan gas air mata. Pemerintah mengecam kekerasan yang terjadi dalam sejumlah aksi protes, namun juga mengakui adanya kekhawatiran mengenai kondisi di sekolah-sekolah menengah.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan bahwa para perusuh bergerak dari satu sekolah ke sekolah lain untuk memicu kekerasan.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyatakan akan bertemu dengan serikat pekerja, kelompok orang tua murid, dan asosiasi siswa pada Jumat (2/10/2026). Ia juga mengimbau pihak sekolah untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh jika akses masuk diblokir oleh para pengunjuk rasa.

"Kekerasan tidak akan menghalangi siswa kita untuk mendapatkan hak dasar mereka atas pendidikan," ujar Geffray melalui platform X.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya