Arab Saudi: Houthi 3 Kali Berusaha Serang Makkah dan Madinah dalam 9 Tahun

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 02 Oktober 2026 16:34 WIB
Ilustrasi.
Share :

RIYADH - Arab Saudi telah melaporkan tiga upaya Houthi untuk menargetkan kota suci Mekkah dan Madinah selama sembilan tahun terakhir. Ini termasuk dua insiden pada bulan September, yang memicu kecaman dari negara-negara Arab dan Muslim.

Kelompok Yaman tersebut telah membantah sebagian tuduhan itu.

Berdasarkan tinjauan Anadolu terhadap pernyataan resmi Saudi, dugaan serangan terbaru menargetkan Madinah dan sebuah wilayah di selatan Mekkah, sementara upaya pertama yang dilaporkan terjadi pada Juli 2017.

Mekkah dan Madinah merupakan lokasi bagi situs-situs paling suci dalam Islam, yaitu Masjidil Haram dan Ka'bah di Mekkah serta Masjid Nabawi di Madinah.

Arab Saudi telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam melawan Houthi sejak Maret 2015. Kelompok Yaman tersebut telah menguasai ibu kota Sanaa dan beberapa provinsi sejak September 2014.

Serangan Houthi terhadap Arab Saudi meningkat pada September setelah kelompok itu mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "blokade maritim" terhadap kerajaan tersebut pada bulan Juli, dan kemudian mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) terhadap berbagai lokasi dan kapal milik Saudi.

Dua insiden pada bulan September 2026

Pada Kamis, (1/10/2026) koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa serangan pesawat nirawak (drone)—yang mereka kaitkan dengan kelompok Houthi—telah menyasar sebuah pembangkit listrik di Madinah.

 

Juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, mengatakan serangan itu terjadi pada Selasa, (29/9/2026) dini hari dan menyebabkan sebuah transformator tidak dapat beroperasi, namun tidak mengganggu jaringan listrik secara keseluruhan.

Maliki menuduh Houthi sengaja menargetkan infrastruktur sipil yang memasok listrik ke Masjid Nabawi, seraya menyebut insiden tersebut sebagai "kelanjutan dari pendekatan milisi ekstremis ini dalam upaya menyasar Dua Masjid Suci."

"Temuan penyelidikan, data operasional, dan pemeriksaan terhadap puing-puing drone yang digunakan dalam serangan itu membuktikan keterlibatan milisi Houthi dalam merencanakan dan melancarkan aksi ini," ujarnya, sebagaimana dilansir TRT.

Ia menambahkan bahwa koalisi akan terus mengambil langkah-langkah untuk mencegah tindakan Houthi serta melindungi Dua Masjid Suci dan para peziarah di Makkah dan Madinah.

Pada 16 September, Maliki menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone Houthi di sebelah selatan Makkah sebelum drone tersebut memasuki wilayah udara terlarang kota itu.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi saat itu menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan upaya kedua yang diduga dilakukan Houthi untuk menargetkan Makkah, menyusul insiden serupa sebelumnya pada Juli 2017.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz mengecam upaya kelompok Houthi untuk kembali menargetkan Mekkah, seraya menyatakan bahwa insiden tersebut memicu kecaman internasional karena pelanggaran terhadap kesucian tempat-tempat suci itu melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.

 

Abdul Mohsen al-Qasim, seorang imam di Masjid Nabawi, juga mengatakan dalam khotbah Jumat bahwa serangan terhadap Mekkah dan Madinah merupakan "pelanggaran berat di hadapan Allah."

Dugaan tahun 2017

Pada 27 Juli 2017, koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh kelompok Houthi ke arah Mekkah—tepatnya di atas wilayah Taif, sekitar 69 kilometer dari kota suci tersebut—tanpa menimbulkan kerusakan.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi saat itu menuduh Houthi melanggar kesucian Mekkah dalam "upaya putus asa untuk mengacaukan musim haji."

Houthi tidak segera membantah tuduhan terbaru yang melibatkan Madinah tersebut.

Namun, kelompok itu dengan cepat menolak tuduhan Arab Saudi terkait insiden 16 September di dekat Mekkah.

Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, dan Hizam al-Assad—anggota biro politik kelompok tersebut—membantah tuduhan itu.

Houthi juga menolak tuduhan bulan Juli 2017, dengan menyatakan bahwa pasukan rudal mereka hanya menargetkan pangkalan militer Taif dan tidak menargetkan Mekkah.

 

Pengumuman Arab Saudi mengenai dugaan upaya penargetan Mekkah pada bulan Juli 2017 dan September 2016 memicu kecaman dari sejumlah negara serta organisasi Arab dan Muslim.

Pernyataan yang mengecam Houthi dikeluarkan oleh Turki, Qatar, Mesir, Yaman, Yordania, Maroko, Palestina, Suriah, Bahrain, Kuwait, Lebanon, Libya, Sudan, Uni Emirat Arab, dan Somalia.

Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Liga Arab, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga mengeluarkan kecaman, disertai beberapa pernyataan yang memperingatkan bahwa serangan yang melibatkan Mekkah akan menyinggung perasaan umat Muslim di seluruh dunia.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya