Lebih dari 2.000 Orang Ditangkap, 400 Sekolah Ditutup dalam Demonstrasi Pelajar di Prancis

Rahman Asmardika, Jurnalis
Sabtu 03 Oktober 2026 01:05 WIB
Demonstrasi pelajar masih berlangsung di kota-kota Prancis.
Share :

PARIS - Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa dan pelajar yang berunjuk rasa di Saint-Denis, sebuah kawasan pinggiran kota Paris, di tengah aksi mogok kerja nasional yang berujung pada penangkapan hampir 2.000 orang di seluruh Prancis.

Para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabung dengan petugas pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, staf transportasi, dan pegawai negeri lainnya yang sedang melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut perekrutan lebih banyak guru pengganti serta kondisi pembelajaran yang lebih baik. Mereka mendirikan barikade darurat, memblokade sekolah dan universitas, serta membakar tempat sampah saat berhadapan dengan polisi.

Sebanyak 1.949 orang ditangkap pada Kamis, (1/10/2026) meningkat dari 625 orang pada hari sebelumnya. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengecam apa yang disebutnya sebagai "kekerasan yang tak terkendali," sementara kementerian melaporkan bahwa 305 petugas polisi dan gendarme (polisi militer) mengalami luka-luka.

Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan bahwa lebih dari 400 sekolah akan ditutup pada hari Jumat akibat kerusuhan tersebut. Ia berpendapat bahwa gerakan pelajar itu telah "disandera oleh kelompok-kelompok kekerasan."

Nunez mengatakan bahwa badan pengawas kepolisian Prancis, Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional, telah membuka tiga penyelidikan terkait insiden yang menyebabkan para pelajar mengalami cedera. Menurut laporan RFI, dalam salah satu kasus, jaksa menyatakan bahwa seorang pemuda di Tours menderita cedera kepala yang mengindikasikan adanya benturan akibat proyektil yang ditembakkan dari senjata polisi yang bersifat tidak mematikan.

 

Namun, Menteri Dalam Negeri membela tindakan kepolisian secara keseluruhan dan menyebutnya sebagai respons yang proporsional.

Di Marseille, para pengunjuk rasa menyerang petugas pemadam kebakaran yang sedang menangani kebakaran di luar Lycée Saint-Exupéry, serta menjarah dan membakar salah satu kendaraan mereka. Seorang petugas pemadam kebakaran terluka.

Para pengunjuk rasa juga membakar sebuah bus kota di dekat Lycée La Floride, sementara beberapa bus lainnya diserang, sehingga pihak berwenang menghentikan layanan transportasi umum di seluruh Marseille.

Pemerintah menggelar rapat darurat pada Kamis, dan setelah itu kantor perdana menteri—dengan mengutip informasi dari badan intelijen—menyatakan bahwa kekerasan tersebut diorganisasi oleh partai sayap kiri La France Insoumise (LFI) beserta "pihak-pihak proksi sayap kiri jauhnya."

Juru bicara LFI, Manuel Bompard, mendesak pemerintah untuk "tidak terjebak dalam teori konspirasi atau memperlakukan siswa SMA layaknya anak-anak."

"Gerakan spontan ini lahir dari rasa frustrasi terhadap kondisi pendidikan yang sama sekali tidak dapat diterima," ujar Bompard kepada AFP.

Jean-Luc Mélenchon, kandidat dari partai LFI untuk pemilihan presiden tahun depan, mengimbau para siswa untuk hanya menggunakan cara-cara tanpa kekerasan.

Para siswa menuntut peningkatan pendanaan bagi pendidikan negeri, jadwal pelajaran yang tidak terlalu padat, serta ukuran kelas yang lebih kecil. Christelle Kauffmann, wakil sekretaris jenderal serikat administrator sekolah SNPDEN-Unsa, menyatakan bahwa pihak kepala sekolah tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk mengurangi jumlah siswa di dalam kelas.

 

Dalam wawancara dengan BFM TV, ia mengecam serangan terhadap para kepala sekolah; beberapa di antaranya mengalami luka-luka selama aksi protest berlangsung.

Sejumlah sekolah mengalami kerusakan dan aksi perusakan, termasuk Lycée Diderot di Paris—di mana bagian depan bangunan menghitam akibat kebakaran besar yang melibatkan tempat sampah dan skuter—serta Lycée Nelson-Mandela di Nantes, yang bangunannya rusak akibat kebakaran yang sengaja dilakukan.

Gejolak ini terjadi di tengah merosotnya popularitas Presiden Prancis Emmanuel Macron hingga mendekati rekor terendah, dengan jajak pendapat terkini menunjukkan tingkat dukungan atau kepercayaan terhadapnya berada di kisaran 16-18%.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya