PARIS — Pelajar dan siswa di Prancis melakukan demonstrasi besar-besaran, membakar setidaknya tiga sekolah dan menyebabkan korban luka-luka. Aksi unjuk rasa yang dipicu oleh masalah kekurangan staf serta kondisi bangunan sekolah yang memburuk itu berubah menjadi semakin ricuh pada Kamis (1/10/2026).
Di SMA Victor Hugo, Marseille, para guru secara tidak sengaja terkena cipratan bensin ketika seorang siswa mencoba melemparkan bensin ke dalam tempat sampah, menurut keterangan otoritas setempat. Sebelumnya, kantor kejaksaan sempat menyatakan bahwa para guru tersebut diserang dan "disiram bensin".
Di sekolah lain di Marseille, yakni SMA Saint-Exupery, ratusan anak muda mengepung sebuah mobil pemadam kebakaran yang sedang menangani kebakaran, kata polisi. Kelompok tersebut memaksa petugas pemadam kebakaran untuk keluar dari kendaraan sebelum akhirnya membakar mobil itu.
Kebakaran lainnya terjadi di SMA Nelson Mandela di Kota Nantes, wilayah barat Prancis. Tidak ada laporan mengenai korban luka dalam kejadian ini. Gedung sekolah tersebut dievakuasi dan para siswa yang baru tiba untuk mengikuti pelajaran diminta untuk kembali ke rumah.
Aksi protes dan pemblokiran sekolah yang dimulai pekan lalu telah menjadi titik panas politik setelah pemerintah mengumumkan kebijakan pemangkasan anggaran yang tidak populer dalam anggaran tahun 2027 pada Kamis.
Kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu menggelar rapat darurat terkait aksi protes tersebut. Menurut para pejabat, unjuk rasa ini telah menyebabkan puluhan orang terluka dan ratusan lainnya ditangkap, dengan mayoritas pelaku merupakan remaja.
Di Saint-Denis, wilayah pinggiran Kota Paris, massa berkumpul di depan barikade polisi. Seorang siswa tampak memegang papan bertuliskan: "Bisakah kami menyampaikan pendapat tanpa ditembaki gas air mata?"