Meski demikian, hujan lebat masih terjadi di sejumlah wilayah. Pada periode 1–4 Oktober 2026, curah hujan harian tercatat mencapai 91 mm di Sumatera Utara, 69 mm di Sumatera Barat, 67 mm di Aceh, dan 54 mm di Jawa Barat.
Dinamika atmosfer turut mendukung peningkatan pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) memengaruhi wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua.
Selain itu, perlambatan kecepatan angin di beberapa wilayah serta suhu muka laut yang relatif hangat turut mendukung ketersediaan uap air dan proses pembentukan awan hujan.
BMKG mengatakan perbedaan kondisi tersebut mencerminkan karakteristik cuaca antarwilayah di Indonesia yang masih cukup beragam. Di satu sisi, kondisi kering yang mendominasi sejumlah wilayah perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko karhutla.
“Namun, di sisi lain, aktivitas dinamika atmosfer yang masih berlangsung memungkinkan terjadinya hujan sedang hingga sangat lebat, termasuk di wilayah yang secara umum mengalami curah hujan rendah,” papar BMKG.
(Awaludin)