Di sinilah pentingnya membedakan solidaritas diplomatik, kerja sama pertahanan, dan partisipasi langsung dalam perang. Ketiganya memiliki konsekuensi politik dan kemanusiaan yang berbeda.
Bagi Suriah, tantangan terbesarnya bukan membuktikan keberpihakan kepada salah satu kekuatan regional, melainkan memastikan bahwa kebijakan luar negerinya mendukung pemulihan negara dan keamanan rakyatnya sendiri.
Bagi Arab Saudi, keamanan nasional tetap perlu dipertimbangkan bersama kemungkinan penyelesaian politik yang dapat mengakhiri konflik Yaman. Sementara bagi Houthi dan pemerintah Yaman, setiap upaya perdamaian perlu membuka ruang bagi penyelesaian persoalan kekuasaan, representasi politik, dan masa depan negara.
Perang Yaman, kini, telah memperlihatkan bahwa semakin banyak aktor eksternal yang terlibat, maka akan semakin rumit pula jalan menuju perdamaian. Keterlibatan internasional memang dapat mengubah keseimbangan kekuatan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan akar konflik.
Suriah mempunyai kesempatan untuk menunjukkan bahwa pengalaman pahit perang dapat menjadi sumber kebijaksanaan diplomatik. Alih-alih sekadar menjadi bagian dari konfigurasi militer baru, Damaskus dapat mendorong pendekatan yang mengutamakan deeskalasi dan penyelesaian politik.
Pungkasannya, ukuran keberhasilan kebijakan luar negeri satu negara bukanlah seberapa banyak medan konflik yang mesti dimasuki, termasuk Suriah dalam konteks perang Yaman. Namun, yang utama adalah seberapa jauh kebijakan negara tersebut membantu mengurangi eskalasi kekerasan dan memperluas kemungkinan perdamaian.
(Fahmi Firdaus )