TEL AVIV - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel siap menyerang Iran tanpa partisipasi Amerika Serikat (AS) jika diperlukan. Ia berjanji untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran dan menjadikan serangan pendahuluan sebagai prinsip utama dalam doktrin keamanannya.
Pernyataan ini muncul di tengah negosiasi tidak langsung yang sedang berlangsung terkait perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari. Israel, yang merupakan penerima utama pendanaan militer dan persenjataan dari Amerika, membenarkan serangan-serangannya dengan alasan keamanan—meskipun konflik tersebut telah meluas ke seluruh kawasan, mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, dan memicu kenaikan harga energi global.
Dalam pidato yang memaparkan doktrin keamanannya pada Minggu, (18/10/2026), Netanyahu berargumen bahwa Iran akan terus membangun kembali kemampuan nuklir dan militernya selama pemerintahannya masih berdiri. Ia menegaskan bahwa Israel siap melancarkan serangan lebih lanjut tanpa harus menunggu keterlibatan Amerika Serikat.
“Jika kami harus bertindak sendiri, kami akan bertindak sendiri,” ujarnya, sebagaimana dilansir RT.
Netanyahu merujuk pada kampanye Israel sebelumnya terhadap Iran sebagai sebuah model. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa ia akan tetap menyerang Teheran “bagaimanapun caranya,” seraya menawarkan kesempatan bagi Amerika untuk turut serta dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Fordow.
Ia menggambarkan tindakan lebih lanjut terhadap Iran sebagai urusan yang belum tuntas, dengan secara eksplisit menetapkan penggulingan pemerintahan negara tersebut sebagai tujuan akhir. “Kami sedang mengupayakannya dan kami akan melakukannya,” tegas Netanyahu.
Meskipun Teheran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir, Netanyahu kembali mengeklaim bahwa serangan AS-Israel telah mencegah Iran memperoleh bom atom yang ditujukan untuk menghancurkan Israel.