Perjalanan politik Lula dimulai pada 1980-an, menjelang berakhirnya era kediktatoran militer Brasil. Ia telah tujuh kali mencalonkan diri sebagai presiden dan sebelumnya memimpin negara tersebut selama dua periode berturut-turut pada 2003–2010, sebelum kembali memenangkan pemilu pada 2022.
Dalam pemilihan kali ini, Lula memasuki putaran kedua setelah tertinggal dari Flavio Bolsonaro pada putaran pertama yang berlangsung pada 4 Oktober 2026. Lula memperoleh sekitar 45 persen suara, sedangkan Bolsonaro meraih sekitar 47 persen. Keduanya tidak mencapai ambang 50 persen suara yang diperlukan untuk memenangkan pemilihan pada putaran pertama.
Menjelang putaran kedua, Lula berupaya memperluas dukungan melalui isu biaya hidup. Ia mendukung amendemen konstitusi untuk mempersingkat jam kerja mingguan di Brasil serta mengemukakan kemungkinan penyediaan transportasi umum gratis pada akhir pekan.
Flavio Bolsonaro, pesaing Lula dalam pemilihan tersebut, merupakan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro. Mantan presiden itu dijatuhi hukuman 27 tahun penjara atas perannya dalam merencanakan kudeta setelah kekalahannya dalam pemilihan presiden 2022.
Di tengah berbagai tantangan politik dan kontroversi yang menyertai pemilu, sambutan dari sejumlah tokoh internasional menunjukkan besarnya perhatian dunia terhadap perkembangan demokrasi dan arah kepemimpinan Brasil ke depan.
(Awaludin)