Lula Menang Pilpres Brasil, Ucapan Selamat Mengalir dari Pemimpin Dunia

Awaludin, Jurnalis
Senin 26 Oktober 2026 09:50 WIB
Luiz Inacio Lula da Silva (foto: AP)
Share :

JAKARTA - Kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil mendapat sambutan dari sejumlah pemimpin dan tokoh politik dunia. Ucapan selamat mengalir, terutama dari kalangan politik sayap kiri, yang menilai hasil pemilu tersebut sebagai momentum penting bagi demokrasi Brasil.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum menjadi salah satu pemimpin yang menyampaikan ucapan selamat kepada Lula. Melalui media sosial, Sheinbaum menegaskan bahwa kemenangan tersebut merupakan kemenangan bagi rakyat Brasil dan demokrasi.

“Hidup demokrasi, rakyat Brasil telah menang,” tulis Sheinbaum, dilansir dari Al Jazeera, Senin (26/10/2026). 

Ia kemudian menyampaikan ucapan selamat kepada Lula atas keberhasilannya kembali memenangkan pemilihan presiden.

"Lula telah membela para pekerja dan demokrasi Brasil  dan akan terus melakukannya dalam empat tahun ke depan," kata Sanders dalam sebuah pernyataan.

Dukungan dari sejumlah tokoh internasional itu muncul di tengah persaingan politik yang tajam di Brasil. Kemenangan Lula tidak hanya menentukan arah pemerintahan negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin tersebut, tetapi juga menjadi sorotan dalam dinamika politik kawasan yang diwarnai persaingan antara kelompok kiri dan kanan.

 

Di balik kemenangan Lula, proses pemungutan suara di Brasil diwarnai tuduhan adanya upaya menghambat partisipasi pemilih.

Sekutu Lula menuding pendukung Flavio Bolsonaro mengurangi ketersediaan transportasi umum, termasuk bus, yang dinilai dapat menyulitkan pemilih dari kalangan kelas pekerja untuk mendatangi tempat pemungutan suara. Sementara itu, hujan lebat melanda sejumlah wilayah selatan yang dikenal sebagai basis dukungan Bolsonaro.

Kedua kubu kemudian mengajukan permohonan kepada Mahkamah Agung agar waktu pemungutan suara diperpanjang. Hakim Mahkamah Agung Cristiano Zanin memutuskan memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam, hingga pukul 19.00 waktu Brasilia.

Namun, Bolsonaro mempersoalkan keputusan tersebut. Ia berpendapat bahwa sejumlah tempat pemungutan suara tidak dapat menyesuaikan diri dengan perpanjangan waktu secara tepat, sehingga berpotensi memengaruhi kesempatan pendukungnya untuk memberikan suara.

Kontroversi tersebut turut memicu ketegangan setelah Bolsonaro menolak mengakui hasil pemilu dan mengisyaratkan upaya hukum untuk menggugat hasil pemungutan suara.

 

Kemenangan Lula di Tengah Persaingan Politik Amerika Latin

Kemenangan Lula memperkuat posisi politik kelompok kiri di Amerika Latin, ketika sejumlah negara di kawasan tersebut mengalami persaingan ketat antara kekuatan progresif dan konservatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, politik di negara-negara seperti Peru, Kolombia, Argentina, Bolivia, dan Ekuador memperlihatkan perubahan dukungan serta persaingan antara kelompok kiri dan kanan. Sejumlah pemimpin konservatif juga memperoleh dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang kembali menjabat pada Januari 2025.

Dalam konteks tersebut, kemenangan Lula menjadi perhatian karena Brasil memiliki pengaruh besar terhadap arah politik dan ekonomi kawasan Amerika Latin.

Lula, mantan pemimpin serikat pekerja logam yang kini berusia 80 tahun, dijadwalkan dilantik pada 5 Januari 2027. Kemenangan ini akan membawanya menjalani masa jabatan keempat sebagai presiden Brasil, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah politik modern negara itu.

 

Perjalanan politik Lula dimulai pada 1980-an, menjelang berakhirnya era kediktatoran militer Brasil. Ia telah tujuh kali mencalonkan diri sebagai presiden dan sebelumnya memimpin negara tersebut selama dua periode berturut-turut pada 2003–2010, sebelum kembali memenangkan pemilu pada 2022.

Dalam pemilihan kali ini, Lula memasuki putaran kedua setelah tertinggal dari Flavio Bolsonaro pada putaran pertama yang berlangsung pada 4 Oktober 2026. Lula memperoleh sekitar 45 persen suara, sedangkan Bolsonaro meraih sekitar 47 persen. Keduanya tidak mencapai ambang 50 persen suara yang diperlukan untuk memenangkan pemilihan pada putaran pertama.

Menjelang putaran kedua, Lula berupaya memperluas dukungan melalui isu biaya hidup. Ia mendukung amendemen konstitusi untuk mempersingkat jam kerja mingguan di Brasil serta mengemukakan kemungkinan penyediaan transportasi umum gratis pada akhir pekan.

Flavio Bolsonaro, pesaing Lula dalam pemilihan tersebut, merupakan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro. Mantan presiden itu dijatuhi hukuman 27 tahun penjara atas perannya dalam merencanakan kudeta setelah kekalahannya dalam pemilihan presiden 2022.

Di tengah berbagai tantangan politik dan kontroversi yang menyertai pemilu, sambutan dari sejumlah tokoh internasional menunjukkan besarnya perhatian dunia terhadap perkembangan demokrasi dan arah kepemimpinan Brasil ke depan.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya