Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Korban Tewas Banjir Ngawi Menjadi 23 Orang

Muhammad Roqib , Jurnalis-Senin, 31 Desember 2007 |19:35 WIB
Korban Tewas Banjir Ngawi Menjadi 23 Orang
A
A
A

NGAWI - Jumlah korban tewas akibat banjir yang melanda wilayah Ngawi terus bertambah. Data terakhir, jumlah korban jiwa mencapai 23 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 4 korban tewas berasal dari Kecamatan Ngawi, 3 korban tewas dari Kecamatan Geneng, 10 korban tewas dari Kecamatan Kwadungan, 1 orang hanyut tewas dari Kecamatan Padas, 4 orang tewas akibat banjir dan tanah longsor di Kecamatan Sine, dan terakhir 1 orang dilaporkan tewas dari Kecamatan Pitu.

Menurut Koordinator Satuan Koordinasi dan Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kabupaten Ngawi, Shodiq Tri, korban tewas terakhir adalah seorang perangkat desa Banjar Banjir, Kecamatan Pitu.

Dia tewas saat membersihkan sumur yang penuh dengan lumpur. "Dia tewas saat membersihkan sumur miliknya yang penuh dengan lumpur sisa banjir. Karena terjebak di dalam sumur yang penuh lumpur dia tidak bisa keluar hingga akhirnya tewas. Sampai saat ini tim kami yang berada di lapangan masih berusaha untuk mengevakuasi korban dari dalam sumur," ujar Shodiq, Senin (31/12/2007).

Banjir masih terus membayangi wilayah Ngawi. Senin ini, wilayah Kecamatan Mantingan, Pitu, dan Karanganyar kembali dilanda banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo. Sebanyak empat desa di Kecamatan Mantingan yakni Desa Mantingan, Gadung, Kledok, Ngrancang, dan Precet kembali terendam banjir setinggi 50-60 sentimeter. Di Kecamatan Pitu terdapat 6 desa yang terendam banjir. Sedangkan di Kecamatan Karanganyar terdapat beberapa desa yang terendam banjir di antaranya Desa Sriwedari, Mengger, Desa Sekarjati, dan Mangunharjo.

Menurut Shodiq, luapan sungai Bengawan Solo kembali terjadi akibat dua pintu air di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, dibuka. Akibatnya, air di permukaan sungai Bengawan Solo kembali naik sekira 15 sentimeter. "Saat ini daerah yang dilanda banjir masih di kawasan Kecamatan Mantingan, Karanganyar, dan Pitu," ujarnya.

Akibat banjir susulan ini, warga dilaporkan kembali mengungsi ke sanak kerabat dan lokasi yang dirasa aman. Mereka khawatir banjir kedua ini akan sama besar seperti banjir yang terjadi sebelumnya.

Sementara itu, jalur transportasi yang menghubungkan wilayah Ngawi (Jawa Timur) ke Sragen (Jawa Tengah) kembali terputus akibat genangan banjir menutupi jalan utama di kawasan Desa Ngrancang, Kecamatan Mantingan. Banjir setinggi lutut ini mengakibatkan kemacetan cukup panjang di jalur tersebut. Kendaraan bus, truk, dan kendaraan berat memutar menggunakan jalur alternatif.

Sedangkan, di Kabupaten Madiun dilaporkan bencana tanah longsor melanda kawasan Desa Bodak, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Akibat tanah longsor ini tiga rumah dilaporkan ambruk dan jalan di desa tertutup material tanah longsor. Namun, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. "Kami telah meminta kepada warga di Desa Bodag untuk selalu waspada apalagi pada saat terjadi hujan deras. Sebab, kawasan di sana rawan tanah longsor," ujar Sekretaris Kesbanglinmas Kabupaten Madiun, Agus Subiakto.

Sedangkan, akibat musibah banjir yang melanda kawasan Kota Madiun beberapa waktu lalu didata kerugian material mencapai Rp14 miliar. Sedangkan, banjir yang melanda kawasan Kabupaten Madiun dilaporkan mengakibatkan kerugian material mencapai Rp8,5 miliar.

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement