Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nenek Guruh Histeris, Cucunya Jadi Korban Ryan

Hari Tri Wasono , Jurnalis-Selasa, 22 Juli 2008 |18:16 WIB
Nenek Guruh Histeris, Cucunya Jadi Korban Ryan
A
A
A

NGANJUK - Tangis histeris meledak di rumah Guruh Setyo Pramono, salah satu korban pembunuhan berantai Verry Idam Henyansah alias Ryan.

Sejumlah kerabat dan tetangga yang berkumpul di teras rumahnya di Kel Kedondong, Kecamatan Bagor, Nganjuk, larut dalam suasana duka atas kematian Guruh yang ditemukan bersama tiga korban lainnya di Jombang.

Dari beberapa pasang mata yang berurai air mata itu, sesosok perempuan tua tampak paling terpukul atas kematian Guruh, atau yang akrab disapa Guntur oleh keluarganya. Ia adalah Ny Tuminem, nenek Guruh yang selama ini menemani korban di rumah.

Nenek berusia 85 tahun itu tak mampu berkata-kata selain mendekap erat foto cucu kesayangannya yang meninggal dengan cara menyedihkan.

Untuk menjaga kondisi psikologisnya, sejumlah tetangga meminta Ny Tuminem untuk tetap duduk di kursinya saat beberapa wartawan mencoba mewawancarainya. Selain itu, kesehatannya juga mulai menurun seiring bertambahnya usia yang mulai senja. Apalagi sejak cucu hasil perkawinan Tumijo dan Misinem itu dikabarkan hilang April 2007 lalu, Ny Tuminem kerap sakit-sakitan.

"Keterlaluan, tidak ada yang memberitahu kalau cucu saya sudah meninggal. Memangnya apa salah Guntur," ratap Ny Tuminem berulang kali.

Meski penemuan mayat para korban pembunuhan Ryan sudah tersebar luas, kedua orang tua Guntur sengaja tidak memberitahu nenek dan kerabat lain yang sudah tua. Mereka khawatir kabar duka itu akan mengguncang kejiwaan Ny Tuminem yang selama ini terus berharap kepulangan Guntur. Karena itu ketika sejumlah wartawan bermaksud menanyakan latar belakang kehidupan korban, mereka sangat terkejut.

Di mata keluarga, Guruh dikenal sebagai anak yang baik dan mudah bergaul. Kemampuan berkomunikasinya yang renyah membuat pemuda itu memiliki banyak teman di lingkungannya. Karena itu tak heran jika hampir semua tetangganya mengenal Guntur dengan baik.

Begitu pula ketika disinggung tentang perilaku seksualnya yang diduga menyimpang alias gay, mereka sangat terkejut. Sebab selama ini korban diketahui tidak memiliki perilaku yang aneh, apalagi menyukai sesama jenis. Hal itu disampaikan Ny Sumini, salah satu kerabat Guntur yang cukup mengenal korban sejak kecil.

"Tidak ada yang aneh dengan Guntur. Ia pemuda normal yang menamatkan kuliah di Universitas Brawijaya Malang," katanya.

Namun begitu, melihat cara bergaya dan penampilannya yang terabadikan dalam sebuah poto ukuran 10R, anak kedua dari lima bersaudara ini memang terlihat feminin. Raut wajahnya bahkan terlihat terlalu bersih dan mulus untuk ukuran cowok. Apalagi ia juga gemar mengenakan aksesoris untuk bergaya di depan kamera.

Hal itu dikuatkan oleh keterangan Ny Parmi, guru Sekolah Dasar Kedondong yang menjadi tempat belajar Guntur. Ia mengatakan secara fisik tidak ada perbedaan sikap yang ditunjukkan Guntur dari anak lelaki lainnya. Namun dari cara bicaranya, ia memang terlihat seperti anak perempuan yang gemar ngerumpi.

"Kalau fisiknya tidak ada yang berbeda. Hanya gaya bicaranya yang endel seperti anak perempuan," katanya yang enggan memvonis mantan muridnya itu sebagai gay.

Sementara itu kedua orang tua korban tidak tampak berada di rumah. Sejak mendengar kabar penemuan empat jenasah korban pembunuhan Ryan di televisi, mereka langsung melapor ke Mapolres Nganjuk kemarin pagi.

Atas saran petugas kepolisian, keduanya disarankan memeriksa sendiri kondisi jenasah di RS Bhayangkara Surabaya. Hingga kini seluruh teman, kerabat, dan tetangga Guntur masih menanti kepastian kabar dari Tumijo dan Misinem.

(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement