BANTUL - Sebagian warga di sekitar Pedukuhan Padokan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul mulai meyakini limbah Pabrik Gula (PG) Madukismo berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.
Keyakinan itu mulai dipertanyakan setelah seorang warganya ditemukan meninggal di parit saat melakukan terapi air limbah itu, Rabu kemarin.Tapi di luar itu, sebenarnya keberadaan PG Madukismo memiliki kisah tesendiri.
Pendirian PG Madukismo berasal dari ide Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekitar tahun 1948 ketika puluhan pabrik gula yang ada di Yogyakarta dibumihanguskan oleh Belanda saat clash ke II perang melawan Belanda setelah kemerdekaan.
Salah satu pabrik yang turut dihancurkan oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 adalah PG Madukismo yang dulu lebih dikenal dengan PG Padokan. Sri Sultan HB IX saat itu melihat ada dua alternatif jika pabrik gula dibangun, yaitu PG Gesikan dan PG Padokan. Dengan berbagai pertimbangan maka dipilihlah PG Padokan yang saat ini bernama PG Madukismo.
Gagasan pendirian PG Madukismo oleh Sri Sultan HB IX semula untuk menolong rakyat yang banyak kehilangan pekerjaan karena bumi hangus pabrik-pabrik gula saat itu oleh Belanda. Dengan pendirian PG tersebut diyakini mampun menampung banyak orang untuk bekerja.
Pada tahun 1953 ketika Pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno cenderung memihak kepada Blok Timur, maka Pemerintah RI membeli mesin pabrik gula dan mesin pabrik spiritus dari Jerman Timur dan pembangunan mesin pabrik gula ditangani langsung oleh 250 tenaga dari Jerman Timur secara bergantian. Sedangkan tenaga kasar disediakan oleh Pemerintah Indonesia.
Pembangunan pabrik berjalan dengan lancar, sehingga pada tanggal 31 Maret 1958 pembangunan fisik PG Madukismo selesai dilakukan dan diresmikan oleh Sri Sultan HB IX yang juga merangkap sebagai Presiden Direktur PT Madubaru.
Pada tahun yang sama, Presiden RI Soekarno tepatnya pada tanggal 29 Mei 1958 meresmikan pabrik spiritus yang dihadiri pula oleh Wakil Presiden RI Bung Hatta, para pejabat Negara dari Jakarta termasuk Sri Sunan Paku Buwono dari Surakarta.
Nama pertama (Badan Hukum) yang diberikan kepada pabrik gula baru tersebut adalah P2G Madubaru (sekarang PT. Madubaru) dengan modalnya berasal dari Sri Sultan HB IX dan Pemerintah Republik. Meskipun baru merealisir mendirikan satu pabrik gula, perusahaan ini mempunyai visi agar dapat berkembang menjadi lebih dari satu.
PG Madukismo yang dirikan dengan tujuan untuk menampung tenaga kerja ternyata dikembangkan juga sebagai agrowisata. Pengunjung bisa menikmati lingkungan di sekitar pabrik yang penuh dengan pepohonan yang rimbun dengan usia ratusan tahun, keliling kebub tebu naik lokomotif (spoor) tebu tua.
Lebih dari itu pengunjung dapat mengajak keluarga serta anak-anak untuk melakukan berbagai kegiatan outdoor yang menarik. Mengunjungi obyek agrowisata ini juga semakin menyadarkan betapa proses pembuatan gula merupakan proses yang panjang. Untuk menghasilkan gula manis yang higienis seperti yang kita konsumsi saat ini banyak melibatkan orang.
PG Maduskismo yang terletak di Pedukuhan Padokan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY saat ini merupakan obyek agrowisata yang menarik.
Namun belakangan daya tarik PG Madukismo seperti semakin bertambah setelah sebagian masyarakat setempat mempercayai limbah cair sisa olahan tebu (blotong) yang mengalir melalui parit-parit di sebelah selatan PG Madukismo dapat menyembuhkan berbagai penyakit mulai dari rematik, penyakit kulit dan penyakit lainnya.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.