Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gemblak, Tayub, dan Komunitas Gay di Jawa Timur

Muhammad Saifullah , Jurnalis-Jum'at, 26 Maret 2010 |08:12 WIB
Gemblak, Tayub, dan Komunitas Gay di Jawa Timur
Kesenian Reog (Foto: Koran SI)
A
A
A

JAKARTA- Tumbuh dan berkembangnya komunitas gay, lesbian, dan biseksual di Jawa Timur tak lepas dari tradisi masyarakat setempat.

Dalam tradisi di Jawa Timur dikenal istilah gemblak di Ponorogo dan sekitarnya serta Tayub di kawasan Pantura, Gerbang Kertasusilo, dan Matraman.

Sosiolog Lab Sosio Universitas Indonesia (UI) Irsyad Zamzani menyatakan tradisi masyarakat di Jawa Timur menjadi salah satu faktor bisa tumbuh dan berkembangnya komunitas gay, lesbi, serta biseksual.

Mereka yang memiliki kesamaan lantas mengorganisir dirinya dalam sebuah wadah. Salah satunya adalah GAYa Nusantara. “Di Jawa Timur banyak tradisi-tradisi yang ada sangkut pautnya dengan komunitas lesbian dan gay,” ujarnya di Jakarta, Jumat (26/3/2010).

Irsyad mencontohkan di daerah Ponorogo terdapat istilah gemblak, kamudian di daerah lain ada Tayub dan Jaranan. Konon, organisasi GAYa Nusantara dan sejenisnya telah memiliki cabang di setiap kota dan kabupaten di Jawa Timur. “Itu karena ekspresi kesenian tradisonal di Jawa Timur lebih vulgar ketimbang di daerah lain,” terangnya.

Selain itu, berkembangnya komunitas marginal ini tidak lepas dari adanya support dari kalangan intelektual serta para aktivis. “Pak Dede Utomo, pendiri GAYa Nusantara, merupakan sosok yang sangt gaul dengan kelompok lintas agama dan golongan,” ungkapnya.

Irsyad mengaku mengenal Dede Utomo saat aktif di LSM Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (eLSAD), Surabaya, beberapa tahun silam. Saat itu, Dede masih aktif sebagai staf pengajar di Universitas Airlangga. “Beliau dikenal dekat dengan Benedict Anderson,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, gemblak merupakan sebutan bagi seorang anak laki-laki usia 12 sampai 16 tahun yang akan dijadikan penari jathilan dalan kesenian Reog Ponorogo. Seorang gemblak berwajah tampan dan berkulit bersih. Dia dipelihara para warok berdasarkan masa kontrak kurang lebih 2 tahun dengan imbalan 1 ekor lembu atau garapan tanah sawah sesuai permintaan orangtua calon gemblak.  
Untuk memahami gemblak dalam kehidupan para warok kita dapat merujuk pada cerita Minakjinggo dan Dayun. Keduanya diibaratkan sebagai Lingga dan Yoni. Begitu pula dengan Warok dan Gemblak.
 
Seorang Warok adalah sosok pemimpin yang disegani dan dapat melindungi warga dengan kesaktian yang dimiliki. Maka Warok harus pandai dan gagah perkasa. Untuk menjaga kesaktian yang dimiliki para warok harus memnuhi sejumlah persyaratan atau laku.
 
Di antaranya dilarang bersetubuh dengan wanita. Untuk kebutuhan biologisnya maka dipeliharalah gemblak, sebagai pelampiasan yang dapat diperlakukan sebagai istri.
 
Sementara Tayub adalah salah satu jenis tarian asal Jawa Timur. Dalam pagelarannya dikenal istilah ledhek, penari. Tayub pada prinsipnya merupakan bagian dari rangkaian upacara keselamatan atau syukuran yang digelar mulai jelang tengah malam hingga pagi.
 
Dalam pelaksanaannya para tamu mendapat persembahan sampur dari penari.
Tamu itupun kemudian menari berpasangan dengan ledhek, seirama dengan iringan gamelan, sesuai dengan gending yang dipesan.
 
Pada mulanya pelaksanaan Tayuban tidak lebih dari kontes atau pameran keluwesan dan ketrampilan menari berpasangan tanpa meninggalkan sopan santun ketimuran. Namun dalam penyebarannya di masyarakat kemudian terjadi penyimpangan sehingga cenderung memunculkan kesan bahwa tayub merupakan bentuk kesenian yang menjurus kepada perbuatan asusila.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement