Tempat Pijat Gay di Solo Ternyata Sudah 5 Tahun Buka Praktek

Agregasi KR Jogja, · Senin 27 September 2021 21:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 512 2477755 tempat-pijat-gay-di-solo-ternyata-sudah-5-tahun-buka-praktek-wLC2outD9E.jpg Polda Jateng rilis kasus panti pijat plus plus sesama jenis (foto: ist)

SEMARANG - Tim Subdit IV Reknata Ditreskrimum Polda Jateng menggerebek panti pijat plus-plus sesama jenis di Jalan Pamugaran Utara, Nusukan, Banjarsari, Surakarta, pada Sabtu 25 September 2021 sekira pukul 17.00 WIB. Dalam penggerebekan tersebut, polisi menangkap tujuh orang tersangka, termasuk seorang mucikari.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro mengatakan, panti pijat plus-plus sesama jenis ini sudah praktek selama lima tahun.

Baca juga: Tempat Pijat Gay di Solo Digerebek, 6 Orang Ditangkap

Petugas menangkap seorang muncikari berinisial DR (47) warga Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Sedangkan enam terapis pria yang diamankan di antaranya HAS (41) warga Semarang, SUR (29) warga Kampar Riau, FIT (32) warga Bawen, HER (30) warga Bandung, AGUS (39) dan DRH (29) keduanya berasal dari Cianjur, Jawa Barat.

“Para terapis dan germonya (muncikari) ini kita gerebek saat sedang melakukan seks sesama jenis di kamar kos di kawasan Banjarsari, Solo. Dari pengembangan berikutnya ternyata melayani jenis seks threesome juga,” kata Djuhandani didampingi Kabid Humas Polda Jateng Kombes M Iqbal Alqudusy di Mapolda Jateng, Senin (27/9/2021).

Baca juga: Panti Pijat Digerebek, Polisi Temukan Kondom Bekas Pakai

Diceritakan praktek prostitusi sesama jenis yang sudah berlangsung lima tahun mengalami pasang surut. “Dalam dua tahun terakhir ini jaringan mereka kembali masih beroperasi dengan mengunggah di beberapa media sosial,” katanya.

Djuhandani mengatakan, dalam pengembangan penyelidikan diketahui bahwa para terapis ini juga melayani dengan lawan jenis. Bahkan mereka juga melayani pasangan suami istri untuk bermain threesome.

“Untuk tarifnya antara Rp200 ribu hingga Rp450 ribu sekali bermain. Sedangkan jika dibutuhkan panggilan ada tarifnya sendiri. Pelaku utama ini juga bertugas untuk mencari terapis dari berbagai kota,” ujarnya.

Selama menjalankan praktek ini, muncikari DR mendapatkan keuntungan dari para terapis dari mulai Rp100 RIBU hingga Rp150 ribu. Sementara, para pelaku ini dijerat dengan Pasal 2 UU RI No 22 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdangan Orang (TPPO) dan pasal 296 KUHPidana dengan ancaman hukuman minimal 15 tahun penjara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini