nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Malin Kundang (Bukan) Anak Durhaka

Rus Akbar, Jurnalis · Minggu 20 Juni 2010 06:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 06 20 340 344675 ho7CUd5UXH.jpg Batu Malin Kundang (Foto: Rus Akbar/Okezone)

PADANG - Siapa yang tak kenal dengan legenda Malin Kundang dari Ranah Minang, Sumatera Barat. Malin Kundang dalam legendanya terkenal dengan kedurhakaannya pada ibunya.

Sekelumit cerita, Malin pulang kampung bersama istrinya nan cantik rupa setelah menjadi saudagar sukses di perantauan. Namun sang Malin terperangah ketika ia melihat ibunya dengan pakaian yang kumal datang kepada Malin dan mengaku-ngaku sebagai ibunya.

Malu melihat kondisi itu Malin mencampakkan ibunya hingga tersungkur dan terguling-guling. Tidak terima dengan perlakuan sang buah hati, sang ibu pun menjadi murka dan mengutuk Malin Kundang menjadi batu. Kutukan dituturkan menjadi kenyataaan, Malin menjadi batu dalam poisisi bersujud seperti batu yang terlihat di Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Namun apa jadinya jika sang Malin itu sebenarnya bukan anak durhaka, melainkan sang Ibu. Hal itu di tulis dalam sebuah cerpen "Malin Kundang, Ibunya Durhaka", yang dipapar sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia, (Almarhum) AA Navis. Sastrawan yang juga terkenal dengan cerpen "Robohnya Surau Kami".

Menurut paparan Navis, cerita berakhir dengan Malin Kundang menuduh ibunya sebagai perempuan laknat, karena menikahi seorang lelaki dan memberi janji akan mendapatkan pembagian harta anaknya yang bernama Malin Kundang.

Inilah penggalan cerita "Malin Kundang, Ibunya Durhaka," mendobrak legenda yang telah terpatri di benak masyarakat minang.

Malin Kundang di atas kapal. Kembali dari rantau. Gagah dan perkasa. Di sampingnya istri  yang cantik jelita, putri raja. Ketika Malin Kundang hendak turun ke darat, diiringi oleh istrinya, putri raja, datang berlari ibu  yang renta. Diiringi seorang laki-laki dari kejauhan. "Malin Kundang anakku, engkau pulang juga akhirnya," kata perempuan renta yang berbaju kumal bertambal.

"Inikah perempuan yang kau katakan sebagai ibu yang  anggun bijaksana, yang selalu bernyanyi bila sunyi,  bersenandung bila murung?" tanya putri raja pada  suaminya.

Malin Kundang tidak bisa berbuat apa-apa. Diremasnya  tangannya sendiri sampai perih. Dia merasa seolah dituduh istrinya telah berdusta. "Apakah engkau tidak salah lihat, Malin Kundang? Salah tempat berlabuh? Karena aku tidak melihat tanahmu yang subur makmur, tidak melihat nyiur melambai di tepi pantai, tidak melihat hutan rimba, suaka alam tempat satwa  bersemayam. Aku hanya melihat tanahmu yang tandus, kering kerontang sahara Afrika," kata istri Malin Kundang.

"Akulah ibumu, Malin Kundang. Memang beginilah keadaannya sekarang, setelah banyak orang seberang, yang katanya mau menghangatkan tubuhku di ranjang. Ketika aku terlena, mereka membabat hutan kita, memindahkan untuk bangsanya. Ketika aku terjaga, mereka sudah tiada," kata perempuan renta di bawah tangga.

"Tapi siapa laki-laki itu?" tanya Malin Kundang sambil  menunjuk ke belakang ibunya. "Dia lah lelaki satu-satunya yang tertinggal, yang rela menemani aku sampai kau tiba membawa harta. Karena aku janjikan bahwa dia akan mendapat bagian," perempuan itu berkata lirih sekali.

Malin Kundang meradang. Lalu berteriak hingga bumi  bergerak. "Engkau perempuan laknat. Kalau benar kau  ibuku, aku kutuk diriku agar menjadi batu. Biar semua orang tahu, Malin Kundang lahir dari perut yang  keliru."

"Malin Kundang kembali berlayar, menembus badai menantang halilintar, sampai kapalnya pecah terdampar. Malin Kundang pun menjadi batu. Sekali-sekali, bila musim berganti, sayup-sayup terdengar suara, yang mengutuk ibu durhaka, yang  menanduskan negeri leluhurnya, sampai setandus jiwanya."

Secara ekstrem, Navis dalam cerpen "Malin Kundang Ibunya Durhaka" dalam pesan ini seakan menggugat keberadaan seorang ibu. Dia mempertanyakan, apa benar sedemikian tega seorang ibu mengutuk anaknya sendiri sehingga berubah menjadi batu. Navis malah menyalahkan sang ibu dan lebih pantas ibu itu yang dicap durhaka.

Demikian pula Wisran Hadi, yang secara menggelitik tidak setuju dengan sebutan durhaka terhadap Malin Kundang. Dalam naskah dramanya Wisran malah membela Malin Kundang dan menganggap wajar bila dia memarahi sang ibu. Persoalannya, si ibu telah kawin lagi dengan lelaki lain dan menggerogoti kekayaan Malin Kundang.

Bagi kritikus sastra Umar Junus, persoalan Malin Kundang lain lagi. Dia memandang Malin Kundang dari dua sisi. Pertama, cerita Malin Kundang mengisyaratkan ketidakkenalan sang anak pada orang tuanya lantaran lama merantau. Karena itu, secara moral, seseorang tidak boleh terlalu lama merantau. Dia harus sering pulang, agar tidak lupa orang tua. Kelamaan merantaulah yang menyebabkan Malin Kundang tidak ingat pada ibunya dan dianggap durhaka, padahal dia tidak bermaksud demikian.

Kedua, cerita Malin Kundang berkaitan erat dengan pembuktian diri dari keserakahan memperebutkan harta. Malin Kundang yang lama merantau dan pulang dengan kekayaan melimpah, menarik perhatian semua ibu, yang secara kebetulan punya anak merantau sebagaimana Malin Kundang.

Mereka mengaku sebagai sang ibu. Karena itu, setiap ibu harus bisa menunjukkan bukti bahwa dia benar-benar ibu Malin Kundang. Ketika tiba giliran ibu sebenarnya, ibu Malin Kundang menyatakan, Malin Kundang benar-benar anaknya dan dia beserta seluruh kekayaannya harus menjadi batu. Pembuktian diri itu memang fatal. Malin Kundang membatu dan sang ibu hanya bisa membanggakan diri, tanpa bisa mengecap kekayaan anaknya.

Malin Kundang Terancam

Kini jejak legenda itu di Pantai Air Manis terancam hilang. Batu Malin Kundang yang berada di 50 meter dari bibir pantai, saat ini nyaris terkikis habis akibat abrasi pantai. Jika pasang naik, batu Malin Kundang diterjang gelombang laut, sehingga banyak pasir yang menimbun batu tersebut.

"Dua bulan lalu, batu Malin Kundang ini tertimbun pasir akibat deburan ombak sehingga beberapa pemuda yang bekerja di sana sebagai jasa photo dan parkir kembali menggali batu Malin Kundang, dari timbunan pasir. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa-bisa batu Malin Kundang ini akan hancur akibat terjangan gelombang," kata Ketua Pemuda Air Manis, Rafles, beberapa waktu lalu. (frd)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini