nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Yopie: Survei LSI Saran Berharga

Insaf Albert Tarigan, Jurnalis · Jum'at 03 September 2010 13:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 09 03 339 369818 Qk54YTGgoQ.jpg SBY-Boediono (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Lembaga Survei Indonesia (LSI) baru saja merilis hasil survei terbaru yang menyatakan, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Boediono terus menurun selama setahun masa pemerintahan.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat mengatakan hasil survei itu adalah masukan yang sangat berharga dan akan dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk bekerja lebih keras lagi.

"Dan mungkin teman-teman di sini yang lihat sehari-hari bisa merasakan dinamikanya. Mungkin itu infonya belum nyampe ke masyarakat, mungkin salah saya juga gitu kan, belum aktif memberitahu bahwa kami akan bekerja sekuat tenaga," katanya kepada wartawan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (3/9/2010).

Meski begitu, kata Yopie, terpenting adalah rakyat bisa menikmati hasil kerja pemerintah dalam menangani masalah bangsa yang sangat kompleks. Karena itu, lanjut dia, pemerintah akan tetap bekerja sesuai fokus yang telah ditetapkan sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 dan Nomor 3 Tahun 2010.

"Kalau Pak Wapres jelas fokus pada mengatasi masalah pengentasan kemiskinan. Kami akan berkerja sekeras-kerasnya untuk mewujudkan atau memenuhi aspirasi masyarakat," ujar Yopi.

"Kami tidak akan pernah surut, karena sudah menerima amanah sudah yakin betul dan ini adalah hal yang kami lakukan," katanya lagi.

Berdasarkan hasil survei LSI, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menurun hingga 15 persen. Hal ini terlihat berdasarkan data Juli 2009, kepuasan masyarakat mencapai 85 persen. Kemudian turun pada November 2009 menjadi 75 persen, dan pada Januari 2010, hanya 70 persen.

Peneliti senior LSI Burhanuddin Muhtadi menyebutkan penurunan ini dilihat dari kondisi di bidang politik yang dipandang lebih buruk. "Yang memandang baik hanya 29 persen. Kemudian soal hukum, yang memandang baik hanya 54 persen," katanya.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini