CHAIRMAN Frontier Consulting Group Handi Irawan D mengatakan bahwa pelayanan yang baik demi kepuasan pelanggan akan berdampak langsung pada perekonomian suatu bangsa.
Menurut dia, bila bangsa Indonesia mempunyai citra yang lebih baik di mata dunia, akan semakin banyak mitra usaha yang mau membuka usaha di Indonesia (SINDO, 26/8). Untuk menciptakan citra yang baik, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengondisikan kawasan agar prospektif dari segi bisnis. Ada sebuah kisah menarik terkait hal ini. Dalam novel Ketika Cinta Tak Mau Pergi (2007), yang ditulis secara amat memikat oleh Nadhira Khalid, diceritakan bagaimana suatu wilayah yang mengandung kekayaan alam disulap menjadi sentra produksi dengan cara yang licik.
Caranya dengan merekayasa perang antardesa. Perang ini menyebabkan para penduduk di desa-desa yang terlibat mau tak mau harus bertransmigrasi guna menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi dan menghilangkan permusuhan. Guna menghindari kerugian akibat tanah dan rumah yang ditinggal, para penduduk yang melakukan transmigrasi terpaksa menjual tanahnya dengan harga murah kepada orang dari desa lain yang tidak terlibat konflik. Pada akhirnya diketahui bahwa yang membeli tanah-tanah para penduduk itu adalah orang-orang suruhan seorang pengusaha dari Jakarta. Singkat cerita, kawasan yang tadinya mayoritas berpenduduk miskin tersebut akhirnya dapat diubah menjadi kawasan industri yang menghasilkan kekayaan triliunan rupiah.
Apa pelajaran yang bisa diambil dari penggalan kisah di atas? Pertama, untuk menghindari potensi kerugian akibat sumber daya manusia (SDA) yang tidak kompetitif, perlu dilakukan usaha “penyingkiran”. Dalam novel tersebut, sang pengusaha menciptakan wilayah bakal sentra produksi yang bebas dari penduduk lokal sehingga bisa bebas mendatangkan para tenaga ahli dari luar. Penduduk lokal yang mayoritas tidak berpendidikan formal dan tidak memiliki keahlian dipandang berpotensi merugikan karena penduduk lokal tentu saja tidak akan tinggal diam jika di wilayahnya berdiri suatu perusahaan, sementara mereka tidak diajak bekerja.
Kedua, agar kawasan bisa dipandang menjanjikan dari segi bisnis, selain harus memiliki potensi juga harus dalam kondisi aman. Dalam novel tersebut, meskipun peperangan terjadi akibat rekayasa, tetapi itu dilakukan untuk menciptakan keamanan baru yang kondusif bagi para pelaku usaha nantinya. Kedua hal inilah yang dalam hemat saya merupakan pelajaran dari kisah di atas.
Kalau kita perhatikan, keduanya memiliki satu substansi, yaitu pentingnya mengondisikan wilayah agar kondusif bagi terciptanya usaha bisnis yang selanjutnya akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Dengan adanya wilayah yang kondusif, para pelaku usaha mudah melaksanakan kegiatan bisnisnya dan para investor mudah mengucurkan dana kepada para pelaku usaha. Tapi tentu saja yang demikian itu tetap harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan penuh etika, serta tidak menghalalkan segala cara seperti yang dicontohkan oleh penulis novel itu.(*)
Adnan Syafi’i
Mahasiswa Fakultas Adab/Sastra
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.