Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Para Petinggi Macan Tamil Hilang Tak Berjejak

Para Petinggi Macan Tamil Hilang Tak Berjejak
Image : ist.
A
A
A

PERANG saudara selama seperempat abad di Sri Lanka memang telah selesai. Namun, kenangan pahit peperangan masih menyelimuti keluarga pejuang Macan Tamil.

“SUAMI saya menyerah pada tentara Sri Lanka pada 18 Mei 2009, seusai perang berakhir," ratap Ananthi Sasitharan. Adegan penyerahan diri Ezhilan, suaminya, terjadi di depan mata Ananthi. Ya, dia melihat sendiri bagaimana suaminya menyerahkan sisa-sisa kekuatan pejuang kepada tentara Sri Lanka. Suaminya kemudian dibawa entah ke mana. Hingga kini tidak ada pemberitahuan tentang lokasi penahanan, apalagi kondisi sang suami. Setelah kejadian itu (penyerahan diri), saya tidak pernah mendengar kabar tentang dia (Ezhilan). Tolong bantu saya mencarinya,"  keluh Ananthi di depan anggota komisi rekonsiliasi yang ditunjuk Pemerintah Sri Lanka.

Ezhilan adalah salah seorang pemimpin politik regional di bawah bendera Macan Pembebasan Tamil Eelam atau LTTE. Selama 20 tahun, pejuang Macan Tamil terus memperjuangkan pemisahan wilayah Tamil di Sri Lanka utara dan timur. Namun pertempuran itu tidak seimbang.

Pejuang Macan Tamil, termasuk Ezhilan, akhirnya menyerahkan diri para pemerintah tahun lalu. Ezhilan termasuk sosok penting dalam kepemimpinan Macan Tamil, terutama di distrik Trincomalee. Dia adalah satu dari sedikit pemimpin LTTE yang berhak bicara kepada media massa. Setelah provinsi timur Sri Lanka jatuh, Ezhilan dan beberapa pemimpin LTTE melarikan diri ke utara Vanni. Mereka memilih Vanni karena hanya kawasan itulah yang masih dikuasai pejuang Macan Tamil. Ketika Ezhilan akhirnya menyerahkan diri, Ananthi tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, Macan Tamil memang kalah. Namun, Ananthi sempat heran saat menyaksikan adegan penyerahan diri itu. Tidak seperti yang dibayangkan Ananthi, ternyata banyak kader LTTE yang mengikuti langkah Ezhilan.

“Saya menyaksikan suami saya bersama kader-kader lain menyerah kepada tentara Sri Lanka," paparnya. Ananthi tampaknya tahu banyak tentang seluk-beluk Macan Tamil. Wajar, karena suaminya pernah menjadi orang penting dalam gerakan tersebut. Peristiwa penyerahan diri Ezhilan pun tak pernah bisa dilupakan Ananthi. Dituturkan ibu tiga putra itu, para pejuang mundur dari medan perang bersama sejumlah warga sipil. Bersama mereka, tampak pula kelompok Thangan. Kelompok yang terakhir disebut adalah para pejabat sayap politik LTTE, termasuk pemimpin politik Illamparithi, Poovanan Iniyavan, serta mantan sekretaris internasional Macan Tamil, Lawrance Tilakar. “Seorang tentara mengidentifikasi suami saya.

Dia (Ezhilan) digiring, sementara saya serta beberapa orang dibawa ke kamp Vavuniya,"  kenangnya. Beberapa waktu selepas perang dinyatakan berakhir, Pemerintah Sri Lanka merilis namanama pemimpin Macan Tamil yang tewas dalam peperangan. Sejumlah orang berpikir bahwa nama Ezhilan mungkin tercantum dalam daftar tersebut. Namun, tidak ada nama Ezhilan tertera dalam daftar itu. Terang saja namanya tidak muncul karena Ananthi menyaksikan sendiri bagaimana Ezhilan menyerahkan diri. Artinya, Ezhilan tidak tewas dalam peperangan.

Dia berada di suatu tempat misterius, entah dalam kondisi seperti apa. Ananthi pun takut membayangkan kondisi suaminya saat ini. Namun, Ananthi tetap gigih mencari keberadaan lelaki yang sangat dikasihinya. (BBC/ika/sindo)

(Rani Hardjanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement